Rabu, 14 Desember 2011

Malu

Bismillahirrahmanirrahim

Senin sore menjelang maghrib, Makassar diguyur hujan deras. Hari yang dingin dan basah itu adalah jadwal wisata hisbah bareng Ukhti Nurul. Halaqah saya cepat berakhir karena cepat mulainya, sedangkan Nurul karena datangnya telat ditambah pembicaraannya seru di halaqah yang ia tangani akhirnya molor hingga pukul 6. Sambil menunggu,, saya nikmati sore itu diteras sebuah mushollah yang sepi. Tak berapa lama, Nurul keluar dari ruangan kecil yang ada di sisi mushollah yang masih menjadi bagian bangunan sederhana itu. Setelah meminta maaf karena sudah membuat saya menunggu lama akhirnya kami pun meninggalkan lokasi penjebakan (Eh…bukan!Lokasi halaqah maksudnya) bersama salah seorang adik ngaji kami. Lumayan lah, bisa numpang mobil saudari sendiri, hemat ongkos..apalagi lokasi yang jauh menuntut kita naik angkot dan becak, tidak bisa berjalan kaki apalagi kalau waktunya mepet siang bolong pula bisa-bisa jadi roti bakar yang gesang..eh gosong..

Minggu, 11 Desember 2011

Tulisan Berantai 11-11-11

Bismillahirrahmanirrahim

PR lagi...PR lagi...Awalnya saya menyangka ini tanggal, dah mikir jauh tuh…ngapain yah saya waktu tanggal itu? Ternyata saya salah kaprah, once again nih anak (Maya maksudnya) bikin saya harus  menulis dengan tulisan berantai. Mesti berjibaku dulu dengan pemikiran dan bergumul dengan sejuta dilema (wuiiihhh…) supaya tulisan ini tidak ada unsur lebay-nya sama sekali. Ala fikrah soal 11-11-11, saya akan mulai dengan permintaan pertama tentang 11 hal pada diri saya. Semoga tidak mengandung unsur narsis…

Se-belas hal tentang saya

1. Serius

Yah, saya orang yang sangat serius. Bahkan semua orang yang pertama kali bertemu akan mengatakan hal ini. Katanya kening saya suka berkerut…kebanyakan malah pilih lari saking seriusnya saya..hahaha curhat…


Sabtu, 10 Desember 2011

Awas Terlelap!

Bismillahirrahmanirrahim

Jika jiwa telah merasa aman, maka tubuh yang merasa penat  segera meminta pemenuhan hak dengan tidur. Begitu pula dengan amanah yang “dirasa” sudah terlaksana, memiliki perasaan aman lantas terlelap oleh keadaan yang ada. Selaiknya kita tak pernah merasa aman dengan peperangan dan perjuangan. Selaiknya para pasukan yang terus berjaga di perbatasan negeri yang tak ingin terlelap barang sejenak pun sebab musuh senantiasa mengintai. Itulah mata yang dijanjikan tak terjilat api neraka.

Awas terlelap..jika sang qiyadah terlelap, kira-kira bagaimana dengan pasukan yang ia pimpin?Akankah ada yang selamat?Akankah ada yang tetap semangat?sedang musuh senantiasa berjingkat mendekat..

Awas terlelap, jika telah memilih menjadi pejuang agamaNya..maka lelap hanya ada saat kenikmatan yang tertinggi telah teraih, saat tak ada lagi perih..

Senin, 05 Desember 2011

Tulisan Berantai: PR SMP

Bismillah

Ngek…Maya…si Putri Cahaya ngasih PR tulisan nih. Katanya bloggers diminta menuliskan lima pengalaman teranyar *hahaha* semasa SMP. Hm…apa ndak salah? Harus menggali memori yang tersimpan rapi. Kalau cerita gita SMA sih maybe masih anget-anget kuku, dan terkadang cerita SMP hanya berisi kekonyolan dan kebanyolan tak terbayangkan…Hehehe..Tapi, PR telah dikirimkan maka, baiklah Bu Maya…akan segera dituntaskan!Khawatir nih memori keburuan basi gara-gara males mengerjakan PR…

Lima Kenangan yang Paling Berharga di Masa Sekolah Menengah Pertama

1. Berenang di banjir Sekolah

Masa-masa SMP saya habiskan di sekolah pinggiran kota yang masih masuk kompleks perumahan. So, ndak ada cerita tuh pake acara naik angkot ke sekolah. Malah saya bisa pulang sewaktu-waktu kalau saya mau karena jaraknya yang hanya 400 meter dari rumah. Anak-anak SMP lain sering bilang sekolah kami kolam renang *hahaha…soalnya kalau hujan deras semalaman bisa dipastikan esok hari sekolah kami akan tenggelam hingga sebetis..maka jadilah kolam renang plus kolam ikan. Apalagi sekolah kami dikelilingi rawa dan persawahan penduduk. Maka, lengkap sudah penderitaan hiks..tapi, hal itu terkadang surga buat sebagian teman-teman saya. Pasalnya, kalau banjir begitu artinya sekolah diliburkan. Bahkan kami pernah libur sampai tiga hari karena banjir. Maklum saja, semua kelas terendam air. Hmm..serunya kita sengaja datang ke sekolah meski tau libur cuma buat berenang di lapangan bola yang sudah berubah jadi kolam renang. Dan…Burrr….loncat indah pun dimulai.. satu persatu teman saya menunjukkan atraksinya. Ooo..oo..tapi saya hanya jadi penonton dipinggir kolam sambil merendam kaki, dan Hup…nangkap ikan yang tiba-tiba lewat >_< hahaha…saya lebih memilih profesi nelayan dibanding atlet renang dadakan bareng teman-teman cewek lain waktu itu!

2. Pengalaman pertama berhijab

Senin, 21 November 2011

Stop Pamer Aurat!!

Saya mau berbagi pengalaman dengan mereka yang mengaku dirinya wanita muslimah. Yang mengakui Allah sebagai Ilahnya dan Rasulullah sebagai utusanNya. Juga kepada saudari-saudari saya yang masih ragu dengan janji Allah. Ini semua kumpulan pengalaman pribadi yang saya alami di sepanjang perjalanan menyusuri jalan di kota ini. Sedikit malu juga sebagai wanita. Ceritanya begini, waktu itu saya sedang jalan di depan pusat perbelanjaan di jantung kota Makassar, nah di tepi jalannya berjejer tukang becak yang kadang sedikit maksa untuk ditumpangi. Hmmm…mungkin tuntutan profesi dan asap dapur (hehe..). pas turun dari pete-pete (istilah angkot di Makassar) saya lantas melanjutkan perjalanan dengan kaki, soalnya kalau berhenti lebih depan lagi, khawatir supirnya bisa ditilang.

Cerita punya cerita, dalam perjalanan itu di depan saya juga ada seorang wanita yang berpakaian yang sangat kontras dengan kostum saya sebagai muslimah.

Sabtu, 12 November 2011

Untuk Anak Indonesia

Bayangkan jika setiap putra putri bangsa membangun negeri ini dengan potensinya masing-masing. Tidak ada yang merasa tinggi atau rendah dengan apa yang mereka dedikasikan untuk tanah air tercinta. Saya selalu membayangkan wajah siswa yang bersemangat, tanpa beban dan bergairah menghadapi setiap fase pembelajaran yang mereka geluti. Acungan tangan, mata yang berbinar, punggung yang senantiasa tegak kala informasi baru mengusik rasa penasaran mereka. Sebuah masa yang tak akan pernah tergantikan.

Anak-anak Indonesia adalah anak-anak yang cerdas luar biasa. Itu harapan yang tak boleh pupus dari seorang pendidik. Pandangan siswa saat belajar berawal dari pandangan guru terhadap mereka. Setiap anak adalah istimewa. Mereka terlahir dengan membawa blue print masing-masing dari Sang Pencipta.

Minggu, 06 November 2011

Filosofi Tukang Parkir

Suatu siang yang indah mengawali perjalanan kami berdua yaitu Saya dan sahabat saya. Siang terik mengantarkan kami untuk membawa obat sakit gigi bagi penghuni sebuah hotel bintang lima dibilangan pettarani. Obat sakit gigi itu untuk kakak sahabat saya. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di hotel tersebut rasanya seperti berada dibagian lain kota Makassar. Maklum, gaulnya bukan di hotel. Yang menarik pandangan mata saya adalah lahan parkir yang berisi mobil-mobil mewah. Berbagai merk mobil kenamaan berjejer rapi, mengkilat dan menunjukkan kelas pemiliknya yang high. Saya coba mereka-reka nilai lahan parkir tersebut yang mungkin bernilai milyaran rupiah (Heheh,,,sempat juga ngitungnya!). lantas pandangan saya beralih pada pria yang memakai rompii oranye lengkap dengan topi dan peluit yang menghiasi lehernya bukan sebagai kalung sebab entar disangka orang gila yang menggantung peluit dileher sebagai kalung (He….he…) tapi siap dipeluit sewaktu-waktu, kan daripda mengandalkan suara yang terbatas pake peluit aja, nadanya juga bisa diatur empat per empat atau tiga perempat hussy…ngaco…

Jumat, 04 November 2011

Sahabat



Berlalu masa bersama,
Tersimpan sebuah tanya dari tatapmu yang dalam
Mengapa masih disini sahabatku?
Lalu saat kau tanyakannya sekali lagi
Maka dengan lantang ku jawab
Tak ada kata pergi dari kamusku, sahabat

Minggu, 18 September 2011

Menulis itu (Gak) Gampang?!

“Hati-hati nulis!”

“Awas mengumbar kehidupan pribadi!”

“Jangan lebay deh dengan tulisan kamu!”

Sejumput pernyataan model begini sudah beberapa kali berseliweran. Warning buat kita-kita the bloggers mania yang hobby nulis dan posting tulisan di dunia maya. Buat yang sudah ahli berolah kata dengan kalimat sendiri, tidak lebay ketika nulis memang hal yang mudah. Atau untuk mereka yang sudah biasa buat artikel. But, buat kita-kita (maksud saya, khususnya saya gitu!!) menulis kehidupan pribadi dalam blog lebih mudah dibandingkan harus ngopas sana sini biar blog ramai tulisan juga bukan pilihan yang urgen. Toh orang bisa dapat itu dari situs utamanya?. Sampai disini alasan pertama bisa jadi argumentasi yang mapan. Atau saya tambah lagi satu biar genap argumentasinya, mengambil kehidupan pribadi lebih bisa termaknai dengan  menarik benang merah agar di kemudian hari kita bisa menyimpulkan”yah ini dia pelajaran hidup”.

Memang, diakui aktivitas menulis adalah aktivitas yang tidak semua orang bisa menggelutinya. Menulis adalah sarana menyampaikan opini, persepsi, argumentasi dan seikat makna lain yang serupa. Sarana yang terkadang bisa lebih menyentuh dibandingkan dengan berbicara langsung. Meskipun harus pula diakui kalau apa yang kita tulis juga kudu bin wajib dipertanggungjawabkan. Kenapa?karena jari jemari menggantikan posisi mulut dalam berbicara. So pasti itu berarti hukum lisan pun berlaku padanya. Sebagaimana pula lisan yang harus menyampaikan yang baik-baik saja, maka tulisan pun harus menyampaikan yang baik-baik saja.

Saya sedikit tergelitik ketika membaca sebuah uneg-uneg seseorang yang mengkritisi kehadiran blog-blog pribadi akhwat

Rabu, 17 Agustus 2011

Perjuangan Itu...

Sudah lama jemari ini tidak menumpahkan kisah yang lalu lalang dalam setiap desah nafas yang berhembus. Saat ketauhidan teruji, saat cinta memanggil-manggil, saat perjuangan menanti, dan saat persahabatan berbuah manis. Ingin saya tuliskan satu persatu agar terpuaskan dahaga memberi hak pada setiap waktu yang telah digunakan. Agar kelak mereka yang tidak mengenal saya tau kalau saya pernah ada sedangkan bagi mereka yang telah mengetahui semakin kenal dengan sosok pribadi yang penuh kekurangan ini.

Senin, 15 Agustus 2011

Harga Sebuah Jempol

Fabi ayyi’alaa I rabbikumaa tukadzzibaan….

Sambil menulis postingan  ini, saya menatap jempol saya yang sedang berbalut plester luka. Beberapa waktu lalu jempol ini terluka di sebuah acara akad nikah saudari seperjuangan. Karena acaranya adalah gawe halaqah tarbiyah saya, maka ditengah tamu yang membludak saya memilih membantu dengan mencuci piring. Tapi, qaddarallah sebuah sendok menggores kulit tepat dibawah kuku hingga kulitnya terkelupas. Darah mengalir tak bisa terelakkan. Mungkin melukai pembuluh kapilernya. Saya sudah berusaha membalutnya dengan kain sambil menekannya untuk menghindari pendarahan lebih lanjut, tapi sia-sia. Akhirnya dengan meminta bantuan seorang adik membeli plester luka barulah darah yang mengalir bisa terbendung.

Mereka Bagian Inspirasiku

Terkadang kita dibuat terkagum-kagum oleh ratusan kisah heroik picisan ala anak muda. Atau sederet kisah berlabel “Islam” yang menggelora. Hanya saja, untuk yang satu ini saya begitu tersentak dan terinspirasi. Saya hanya tak bisa membayangkan sebuah zaman yang berisi orang-orang super. Bagi kita super bisa berarti superman, batman, spiderman, de el el..tapi inilah mereka para sahabat Rasululllah Shallallahu’Alayhi Wasallam.

Sirah telah menorehkan kehebatan mereka. Ratusan pribadi telah melalui proses tarbiyah oleh madrasah nubuwwah yang kental dengan aroma wahyu dan kepekatan didikan sang Uswah. Ratusan pribadi itu tak menjadi sosok yang lain dalam proses pembentukannya. Tak menjadi sosok yang asing bagi keluarganya atau kerabatnya kecuali satu dasar prinsip taqwa yang kian menghujam. Mereka tumbuh dalam sibghah yang luar biasa, menembus batas kisah manusia super abad ini.

Minggu, 03 Juli 2011

Ingin Terus Berkarya...



Meski sederhana namun, postingan ini istimewa untuk mereka yang telah meluangkan waktunya sekedar menengok apa yang saya goreskan. Aksara yang terpahat di weblog ini tidak banyak, masih minim makna, minus manfaat, hanya mencoba mengalirkan letupan-letupan huruf yang siap berjejer dan membentuk kata.

Kepada mereka yang mengambil manfaat, semoga terus mengalir jariyah. Kepada yang menemukan inspirasi, teruslah berkarya tanpa batas. Kepada yang menemukan makna, jangan berhenti memahaminya!

Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungannya. Kunjungan anda semua terlihat melalui traffic, komentar dan hasil pencarian mesin searching. Kunjungan itu membuat saya terus ingin menulis, memahat huruf demi huruf, menyusunnya meski terkadang terseok dengan aktivitas yang menggerus masa. Tulisan telah membangkitkan ide-ide yang lama terpendam usia dan ketidakdisiplinan. Terima kasih dan jangan berhenti memberi nasehat yang membangun!

Rabu, 08 Juni 2011

Jangan Menyerah!

Sepertinya saya harus berterima kasih pada sebuah provider telepon celluler. Sebuah info sel melekat paten pada layar desktop hape saya. Tulisannya pendek, hanya dua kata HIDUPKAN SUKSESMU! Tapi kata-kata itu ajaib bagi saya. Sukses memang harus dihidupkan, disaat-saat saya merasa “sedikit” terpuruk dengan kondisi yang jauh dari target dan idealitas. Saya tak ingin muluk-muluk dengan target dan idealitas itu. Meskipun saya akui, semestinya saya harus punya plan A, B dan C mengantisipasi kemungkinan jika memang jauh dari target. Tapi, untuk urusan yang ini tak ada plan B dan C, rencana awal harus segera direalisasikan. Jawabanya cuma satu! MAJU! Tak ada kata mengganti dengan yang lain atau mundur teratur.

Kamis, 02 Juni 2011

Dia Yang Telah Pergi


(Kullu nafsin dzaaiqatul mauut...)

Selamat Jalan...
Maafkanku yang tak sanggup temanimu dalam detik-detik perpisahan itu
Maafkanku tak melantunkan ayat-ayat cinta diruang dengarmu
Maafkanku tak mampu genggam jemarimu saat Malaikatul Maut menjemputmu
Bahagiaku saat mendengar segores senyum sempat kau lukiskan
Ingin mendampingimu dalam dekapan waktu
Namun jauhnya jarak memisahkan kita
Kini tanah telah menyatukanmu dalam diamnya

Kamis, 26 Mei 2011

HappySode Walimah (Refleksi Daurah Pernikahan)

Setengah enggan setengah ingin saya mengikuti daurah pernikahan beberapa waktu lalu. Sasarannya sudah terbaca, tujuannya tersingkap jelas…membangkitkan semangat menggenapkan setengah din. Seolah tau suara-suara sumbang yang terdengar, para Asatidzah dan Ummahat menggelar kegiatan tersebut melihat menurunnya bara azzam mencari pasangan se-visioner bagi ikhwan wa akhaawat, ditengah rindu yang mengetuk-ngetuk sanubari..aha…

Tak ingin terlalu bersemangat atau terlalu pobia, maka saya putuskan sedikit agak telat menghadirinya terlebih urusan pekerjaan rumah yang baru tuntas menjelang waktu yang disampaikan panitia lewat pesan singkat yang beredar jauh-jauh hari. Sekira satu jam dari waktu pelaksanaan saya tiba di meja registrasi.

Kamis, 28 April 2011

Mobil Mogok Menuju Amanagappa (Part Proposal Yang Menggantung)

Pufff.......nampaknya perjalanan menuju Amanagappa mengalami kendala, entah karena alasan apa proposal yang sudah rapi jali dan siap dipertaruhkan di ruang seminar harus mengalami penolakan di ruang prodi. Kurang lebih dua jam antrian sampai giliran saya untuk mengajukan pada prodi meminta pembahas seminar, namun jauh panggang dari api belum juga proposal itu dibaca sudah dipental duluan melihat judulnya. Ilahi Rabbi…saya urut dada. Alasannya? Karena penelitian saya sulit!mendengar alasan itu saya bergumam dalam hati, “penelitian sulit bukan alasan untuk dipental kan?” Alasan lainnya adalah penelitian saya menyangkut psikologi pendidikan yang ambil spesialisasi perkembangan peserta didik sedangkan saya adalah calon sarjana pendidikan biologi.Gubrak!!yah…tapi, apa mau dikata? Saya harus bersabar. Dengan langkah gontai saya meninggalkan ruang prodi. …yang lebih hebatnya lagi seharian itu, ada tiga orang yang berasal dari satu pembimbing yang mengalami nasib serupa. Dua orang termasuk saya proposalnya ditolak sedangkan rekan yang lain malah “dibantai” di ruang seminar hasil. Sampai-sampai dosen bersitegang, satu sisi dosen ada yang membela nah di sisi lain ada yang menolak dicantumkannya satu kata pada penelitiannya karena satu kata itu tidak terintegrasi pada penelitian rekan saya..

Minggu, 17 April 2011

Harapan

Tak pupus asa di dada

Akan gema rindu cinta

Yang membuai dan mengantarkan menuju surgaNya

Tak lekang menguap benak

Di ruang penuh tanda

Insya Allah..

Perjalanan mengarunginya harus terganti dengan sang Nakhoda baru, yang lebih baik, lebih kuat, lebih cinta, lebih lebih dan lebih…tak henti dada membuncah gemeretak meletakkan sebuah amanah yang entah menyelamatkan ataukah menjadi pemicu gugurnya amalan yang lain. Aku bukan lari, bukan tak peduli, tapi ku sedang terjaga menyaksikan pertumbuhan jiwa-jiwa yang meneruskan perjuangan. Aku bukan laksana pohon besar dengan rerumputan dibawahnya yang siap terpapar sang angin berdiri kokoh, namun aku pun seperti rumput yang siap dihantam puyuh bedanya akarku dibuatNya “sedikit” lebih kuat pikirku…

Hari ini ku kembali menjadi rumput yang siap mempercantik taman perjuangan yang lain. Ku harap ku siap menjalaninya, entah seperti apa tanah tempatku tumbuh, entah seperti apa puyuh yang kan kuhadapi. Namun, biarlah sang Kekasih memberikan jawabannya..

(Jumat Ba’da shubuh, dalam sahutan pagi yang menyemangati hati yang sendu)

Kamis, 07 April 2011

Cinta?Again!


Again!topik yang bagi saya tak pernah habisnya untuk dibahas oleh siapa saja dan dalam masa yang tak pernah lekang. Cinta…memaknainya tak butuh sederet teori. Memaknainya tak butuh ratusan seminar atau talk show. Karena ia bukan kata sifat atau kata benda. Cinta, amor, love, hubb or aid dan sejumput kata asing lain adalah sebuah kata kerja. Maka memaknai cinta adalah memaknai kerja. Lalu bagaimana dengan proses kerja itu sendiri?. Cinta bekerja dengan awalan men- bukan di-. Mencintai berarti memberi cinta, bukan dicintai yang berarti diberikan cinta. Hidup yang penuh dengan kerja untuk men-cintai, adalah sebuah hidup untuk memaknai hidup.  Sebagian besar bahkan kebanyakan orang lebih berfokus untuk menunggu cinta yang dicintai tanpa berfokus untuk memberi cinta pada yang dicinta. Hm…cinta..

Suatu hari seorang sahabat pernah berkata begini pada saya,

Selasa, 05 April 2011

Jalan itu telah kau pilih, maka susurilah....

Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup bukanlah pillihan mudah, bukan pula jalan yang serupa dengan jalan berhias taman dipinggirannya apalagi serupa jalan tol yang bebas hambatan. Memilih jalan dakwah adalah pilihan besar yang pasti ujungnya adalah jannah-Nya. Seringkali terdengar sebuah keluhan hati dari saudari disekitar kita bahwa mereka lelah dengan jalan yang telah mereka pilih tersebut, yang jika keluhan itu tidak segera di “treatment” berakibat pada mundurnya mereka dari jalan dakwah ini yang secara otomatis menambah lagi para penonton bukan pemain. Jalan dakwah ketika telah dipilih sebagai jalan hidup maka, pada hakikatnya orang-orang yang telah mundur dari jalan tersebut adalah orang yang sedang tidak berada dalam hidupnya. Ibarat ikan yang keluar dari air lantas menggelepar dan mati. Allah seantiasa memilih hamba-hambaNya yang siap berjuang menegakkan kalimat tauhid. Seorang Ustadz pernah berkata bahwa Allah senantiasa menjadikan dari hamba-hambaNya itu orang-orang yang berjuang dijalanNya dengan harta dan jiwa mereka yang dengan perjuangan itu mereka telah menukarkan hidupnya dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bukan itu saja tetapi mereka akan diberikan kemenangan yang besar. Suatu janji yang tak mungkin diingkari.

Kamis, 24 Maret 2011

Ada Cinta di KKN



Genap 2 bulan saya ditugaskan di lokasi KKN, sebuah desa terpencil disalah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Diawal perjalanan masih terngiang setiap kalimat nasehat akhwat agar terus istiqomah, betapa hati ini terus bersyukur diberikan saudara yang selalu mengingatkan. Mulai dari nasehat buku apa yang harus dibawa untuk bekal dakwah, cara bergaul dengan teman seposko yang lawan jenis, jangan sampai putus kontak sampai yang paling ekstrim hati-hati dengan cinlok alias cinta lokasi. Cinta yang banyak melanda mahasiswa yang sedang dalam tugas mengabdi pada masyarakat. Cinta yang katanya membuat masa-masa KKN yang panjang menjadi lebih indah dan menyenangkan. Akankah saya bisa bertahan??Jauh dari saudari-saudari seperjuangan, jauh dari halaqah tarbiyah, jauh dari kesibukan yang menyita sebagian besar waktu saya saat berada di Makassar..Ya Rabbi..Akankah??Akankah saya bisa bertahan ditengah-tengah pergolakan batin yang menyeruak tajam saat syari’at Allah dilanggar dihadapan mata lantas saya hanya bisa menegur dalam gumam yang tak terdengar…

Selasa, 15 Maret 2011

Menuju Amanagappa (Proposal)

Mengerjakan proposal betul-betul menguras energi, bagaimana tidak?. Terkadang karena keasyikannya saya mengerjakannya hingga waktu berlalu dengan cepat menunjukkan setengah 2 pagi. Hal itu berlanjut selama sepekan. Saya akhirnya tumbang di akhir pekan, karena selain mengerjakan proposal, akhir pekan yang bagi kebanyakan orang adalah pekan rehat justru terbalik bagi saya, tak ada kata istirahat di kamus saya, wajar saja akhwat sempat bilang kok pipi saya agak kempis (kelihatan kurus maksudnya, yah…emang ndak pernah gemuk Ukhti..). Saya tumbang, drop selama tiga hari. Semuanya terjadi di akhir pekan, dan agenda yang tertunda  ada 6 agenda. Banyak pihak yang dirugikan. Tapi, saya bahagia. Nah lho….karena perhatian selama saya sakit mengalir dari banyak orang terkasih. Mereka sempat ngomel, katanya saya pasti jarang makan. (Iya sih…tapi, saya bilang saya rajin kok) Tapi, setelah menatap wajah saya dicermin…memang saya Nampak kusam (Mau dicuci pake deterjen kali mukanya..he..he..). Mungkin Karena begadang ditambah sakit yang mendera. Mengerjakan proposal penelitian ini menuju Amanagappa bukan pekerjaan yang mudah, tapi saya tak habis pikir. Kok bisa yah, serumit ini? Karena saya melihat teman-teman saya begitu mudahnya mengerjakan proposal mereka. Saya tidak ingin mengatakan diri saya lalo alias telat loading. Tapi jujur, setiap kali saya ingin maju konsultasi,  maka saya langsung mundur mengecek kembali pekerjaaan saya, takut banyak kata yang salah yang tidak sesuai EYD ditambah lagi teman-teman yang selalu mengingatkan agar pengerjaan proposal harus sesuai dengan buku pedoman penyusunan skripsi. Saya harus bekerja perfect, tidak asal-asalan, meskipun saya tau saya tergolong orang yang lambat selesai (dah kelewat waktunya maksudnya, hampir lima tahun..Gubrak!). Tapi, it doesn’t matter. Dalam hal dunia kita harus lihat orang yang ada dibawah kita, kebalikannya untuk akhirat. Hadist ini sebagai salah satu motivator bagi saya, lagian juga beasiswa sudah cukup mnjadi andalan untuk membiayai segala kebutuhan akademik. Saya tidak mau jadi sarjana ecek-ecek. Saya ingin membawa penelitian ini di masyarakat, saya ingin instrumen penelitian saya bisa dipakai oleh banyak orang. Saya ingin dan ingin (Cita-cita jangan sampai bikin kamu jatuh Q!berusaha menasehati diri sendiri). Alhamdulillah, Allah memberikan pembimbing yang sangat baik, perhatian dan tau kapasitas saya, malahan saya diminta nambah variabel penelitian biar lebih biologi katanya. Jadilah, tiga rumusan masalah. Yah lumayan, nambah satu. Meskipun nambah satu tapi sebenarnya dua yang lain berubah total alias nambah masalah baru (Penelitian mah emang nyari-nyari masalah he…he..)

Jumat, 04 Maret 2011

Sepatu (part two)

Hm…kali ini, sepatu itu kembali berkisah. Setelah direkatkan menggunakan lem yang paling bagus (katanya), sepatu saya yang hampir ngakak itu pun mingkem. Tapi, sayang seribu sayang hujan yang mengguyur kota Makassar sekian hari ditambah dengan jalanan yang becek berhasil membobol pertahanan lem yang katanya “kuat” itu. Kalau begini terus, bisa-bisa saya harus beli sepatu baru padahal kocek lagi tipis-tipisnya. Menunggu sepatu pesanan dari cibaduyut pun bukan solusi terbaik untuk saat ini. Akhirnya saya memutuskan menjahitnya. Berbekal jarum jahit khusus sepatu dan tasi yang memang sudah disediakan Ibu bila sewaktu-waktu sepatu atau sandal yang beliau punya mengalami kasus yang sama, saya pun menjahitnya. Sungguh luar biasa, menusukkan jarum hingga menembus alas dalam dan alas luar butuh tenaga yang ekstra, ditambah lagi harus mengikatkan tasi dari dua arah yang sama. Tak terbayangkan bagaimana dengan para penjahit sepatu yang duduk dipinggir jalan yang mungkin saja setiap hari bagi mereka sangatlah untung jika ada satu saja orang yang mau menjahit sepatunya. Sebab, harga sepatu yang saat ini murah (tapi mudah rusak) bak jamur dimusim hujan dijajakan dipasar-pasar semakin mebuat orang berfikir lebih baik untuk membeli daripada menjahitnya. Tangan saya sampai merah dibuatnya. Meskipun, ibu saya sempat menilai kalau hasil jahitan saya jelek sebab jarak jahitannya tidak sama(he..maklumlah amatiran) Itu pun jahitannya tidak untuk seluruh alasnya, saya hanya menjahit bagian yang kemungkinan akan tertawa ngakak jika saya tidak berhati-hati. Alhamdulillah, saya jadi lebih pede setelah berhasil membuat bibirnya terkulum.

Senin, 28 Februari 2011

Sepatu

Sore mengantarkan malam sebelum bertugas dengannya, ada segores awan putih yang tersketsa dilangit, nampak bawakaraeng tersapu sinar mentari yang sebentar lagi menuju peraduan, diikuti oleh wajah kelelahan orang-orang diatas kendaraan menuju gubuk  masing-masing..saya baru saja pulang dari wisata hisbah yang rutin saya jalankan Insya Allah, kaki saya melangkah perlahan mencoba menikmati rambahan sinar mentari yang mulai menurun kegarangannya hari ini. . menapaki sudut jalan jantung kota Makassar.

Setiap beraktivitas diluar rumah saya sering menggunakan sepatu (Kalau telanjang kaki, ntar disangka gembel Q He....) Karena kebiasaan ini sampai-sampai akhawaat baru sadar, kalau mereka tidak pernah melihat saya memakai sandal sepatu atau sandal dihadapan mereka. Alasan saya cukup sederhana, dengan sepatu kaki saya lebih terasa terlindungi dan mudah melangkah tanpa khawatir sepatu itu akan terlempar jika saya terlalu bersemangat berjalan…(Pengen nendang bola mungkin....)

Jumat, 28 Januari 2011

Meraih kemuliaan disisi Allah

Dalam Al Qur’an Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

“Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat)yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”(QS. Ali Imran:104).

Kata kuntum dalam ayat ini spesifik disampaikan kepada sahabat, bahwa mereka dikatakan sebaik-baik umat akan tetapi juga diberikan keumuman bagi kaum muslimin  yang berdakwah sebab ayat ini mempersyaratkan bahwa sebaik-baik umat adalah mereka yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Kemuliaan yang Allah lekatkan kepada suatu kaum ataupun seseorang bukanlah harga yang murah, setiap kemuliaan tidaklah diperoleh dengan mudah tetapi kemuliaan diperoleh dengan masyaqqah sebab thariqah dakwah memiliki banyak ujian sebagaimana juga Allah telah berfirman dalam Al Qur’an:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan “Kami telah beriman,”dan mereka tidak diuji?”(QS.Al Ankabut:2)

Tidak ada satu pun dalil yang menegaskan bahwa kemuliaan dapat diperoleh dengan predikat-predikat duniawi. Mari kita merenungi bahwa banyak ayat ataupun hadist yang memberikan gambaran bahwa mereka yang mulia antara lain orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya, belajar dan mengajarkan Al Qur’an, serta beriman dan bertakwa. Kemuliaan itu adalah apa yang dinilai mulia oleh Allah.

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...