Minggu, 17 April 2011

Harapan

Tak pupus asa di dada

Akan gema rindu cinta

Yang membuai dan mengantarkan menuju surgaNya

Tak lekang menguap benak

Di ruang penuh tanda

Insya Allah..

Perjalanan mengarunginya harus terganti dengan sang Nakhoda baru, yang lebih baik, lebih kuat, lebih cinta, lebih lebih dan lebih…tak henti dada membuncah gemeretak meletakkan sebuah amanah yang entah menyelamatkan ataukah menjadi pemicu gugurnya amalan yang lain. Aku bukan lari, bukan tak peduli, tapi ku sedang terjaga menyaksikan pertumbuhan jiwa-jiwa yang meneruskan perjuangan. Aku bukan laksana pohon besar dengan rerumputan dibawahnya yang siap terpapar sang angin berdiri kokoh, namun aku pun seperti rumput yang siap dihantam puyuh bedanya akarku dibuatNya “sedikit” lebih kuat pikirku…

Hari ini ku kembali menjadi rumput yang siap mempercantik taman perjuangan yang lain. Ku harap ku siap menjalaninya, entah seperti apa tanah tempatku tumbuh, entah seperti apa puyuh yang kan kuhadapi. Namun, biarlah sang Kekasih memberikan jawabannya..

(Jumat Ba’da shubuh, dalam sahutan pagi yang menyemangati hati yang sendu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...