Tak pupus asa di dada
Akan gema rindu cinta
Yang membuai dan mengantarkan menuju surgaNya
Tak lekang menguap benak
Di ruang penuh tanda
Insya Allah..
Perjalanan mengarunginya harus terganti dengan sang Nakhoda baru, yang lebih baik, lebih kuat, lebih cinta, lebih lebih dan lebih…tak henti dada membuncah gemeretak meletakkan sebuah amanah yang entah menyelamatkan ataukah menjadi pemicu gugurnya amalan yang lain. Aku bukan lari, bukan tak peduli, tapi ku sedang terjaga menyaksikan pertumbuhan jiwa-jiwa yang meneruskan perjuangan. Aku bukan laksana pohon besar dengan rerumputan dibawahnya yang siap terpapar sang angin berdiri kokoh, namun aku pun seperti rumput yang siap dihantam puyuh bedanya akarku dibuatNya “sedikit” lebih kuat pikirku…
Hari ini ku kembali menjadi rumput yang siap mempercantik taman perjuangan yang lain. Ku harap ku siap menjalaninya, entah seperti apa tanah tempatku tumbuh, entah seperti apa puyuh yang kan kuhadapi. Namun, biarlah sang Kekasih memberikan jawabannya..
(Jumat Ba’da shubuh, dalam sahutan pagi yang menyemangati hati yang sendu)
Minggu, 17 April 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar