Sepertinya saya harus berterima kasih pada sebuah provider telepon celluler. Sebuah info sel melekat paten pada layar desktop hape saya. Tulisannya pendek, hanya dua kata HIDUPKAN SUKSESMU! Tapi kata-kata itu ajaib bagi saya. Sukses memang harus dihidupkan, disaat-saat saya merasa “sedikit” terpuruk dengan kondisi yang jauh dari target dan idealitas. Saya tak ingin muluk-muluk dengan target dan idealitas itu. Meskipun saya akui, semestinya saya harus punya plan A, B dan C mengantisipasi kemungkinan jika memang jauh dari target. Tapi, untuk urusan yang ini tak ada plan B dan C, rencana awal harus segera direalisasikan. Jawabanya cuma satu! MAJU! Tak ada kata mengganti dengan yang lain atau mundur teratur.
Rabu, 08 Juni 2011
Kamis, 02 Juni 2011
Dia Yang Telah Pergi
(Kullu nafsin dzaaiqatul mauut...)
Selamat Jalan...
Maafkanku yang tak sanggup temanimu dalam detik-detik perpisahan itu
Maafkanku tak melantunkan ayat-ayat cinta diruang dengarmu
Maafkanku tak mampu genggam jemarimu saat Malaikatul Maut menjemputmu
Bahagiaku saat mendengar segores senyum sempat kau lukiskan
Ingin mendampingimu dalam dekapan waktu
Namun jauhnya jarak memisahkan kita
Kini tanah telah menyatukanmu dalam diamnya
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...