
Wajah itu masih lekat dalam ingatan, tapi kini sosoknya mendahuluiku sebagai orang yang justru lebih dahulu menghirup oksigen. Yah, dialah kematian. Hari ini, Allah Subhanahu wata’ala menyentak kesadaran saya tentang arti pemutus kenikmatan selamanya. Kita semua akan mati, meninggalkan jejak, tinggal memilih jejak kebaikan atau jejak nista. Nurfadhillah Azhary, sosok sabar dan tenang. Dia lebih banyak tersenyum dibanding tertawa, lebih banyak kerja dibanding berbicara, lebih banyak diam dibanding mengeluh atas apa yang dia rasakan di hadapan manusia.