Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2014

IBU PALESTINA


Anakku, mataku kini tiada menyisakan cahaya
Hingga lamur karena pekat
Namun masih ada bara manikmu
Menyisakan detak-detak perapian
Berangus sukma-sukma kayu

Anakku, punggungku berbentuk pelangi hanya disanggah pilar rapuh ujung tangan
Serabut-serabut putih tumbuh berlarian kepalaku
Hadir jua teguh sosokmu
Siap rambah padang seribu luka

Anakku, aku telah temaram usia
Tinggal selangkah mengetuk pintu tanah
Bukan menghantar denyut jantung itu yang kuingin
Mengutusmu menyambut rencah 100 peluru yahudi
Seperti menyusun batu bata surgaloka

Anakku mari jadi Ibrahim dan Ismail
Mahkotai raja kita dengan hibat pitih
Sudah sampai suratan
Mengikuti iringan jasad berbau kesturi
Menuju sisi Sang Pencipta

Liebe ENO Shafiiyyah (24.2.03)

(Suara untuk bumi Gaza dari tanah Anging Mammiri)

Sabtu, 17 November 2012

Kita PejuangNya

Karena masih tak percaya

Perjumpaan yang tak berencana

Namamu tersebut

Karena menduga ataukah sudut yang berbeda

Membentuk ruang yang bertolak

Senin, 23 Januari 2012

Berkah dari Langit


Bersatu dan berkemul memilih warna, kelabu

Berarak dan melambai

Tapi entah berangkat kemana, ghaib

Rupa yang laksana pucat memecah keceriaan sang hangat

Tak butuh waktu lama

Jumat, 04 November 2011

Sahabat



Berlalu masa bersama,
Tersimpan sebuah tanya dari tatapmu yang dalam
Mengapa masih disini sahabatku?
Lalu saat kau tanyakannya sekali lagi
Maka dengan lantang ku jawab
Tak ada kata pergi dari kamusku, sahabat

Selasa, 28 Desember 2010

Senandung

Gelap semakin menenggelamkan malam
Dalam sisa-sisa kehangatan mentari sore
Sambil ku raba pusara hati yang telah kering oleh evaporasi peradaban
Kurasa tiada yang berarti, hampa

Sayup-sayup ku dengar lantunan hewan malam
Memberi kabar bahwa malam ini akan dingin
Sedingin kembara kalbu yang mulai rapuh
Dimana lagi kan kucari lentera

Ketika manik mata tak mampu menampung keluh kesah
Maka, ia akan tumpah dalam bait-bait doa diatas hamparan sajadah
Kala kini buatku merasakan ringannya kapas yang diterbangkan angin

(Malam Diawal Januari ’08)

Senin, 10 Mei 2010

Fragmen untuk Huda

Fase yang berbeda telah engkau pilih

Menentang arus yang tak bersahabat

Tak ku lihat redup semangat tuk mengayuh dayung bajamu

Masih ada asa yang kau tuang dalam cawan hatimu

Bahwa esok kelak kau akan sampai pada pelabuhan yang kau tuju

Fase yang berbeda telah kau pahat

Kau ukir menjadi sebuah prasasti perubahan

Selasa, 16 Maret 2010

Cinta

Ku tepis cinta bukan karena ia dosa
namun ia telah salah memilih posisi dan waktu
Cinta ku tepis bukan karena ia nista,
hanya saja cinta terlihat begitu indah hingga melupakan dan melenakan
Cinta itu ku tepis bukan dengan logika, amarah atau deraian air mata
Tapi ia ditepis dengan doa kepada Sang Empunya cinta
Dan sungguh, cinta hanya indah  manakala mekar pada waktunya.
(Rezky Batari Razak~Guru Ngaji Kampung)

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...