Gelap semakin menenggelamkan malam
Dalam sisa-sisa kehangatan mentari sore
Sambil ku raba pusara hati yang telah kering oleh evaporasi peradaban
Kurasa tiada yang berarti, hampa
Sayup-sayup ku dengar lantunan hewan malam
Memberi kabar bahwa malam ini akan dingin
Sedingin kembara kalbu yang mulai rapuh
Dimana lagi kan kucari lentera
Ketika manik mata tak mampu menampung keluh kesah
Maka, ia akan tumpah dalam bait-bait doa diatas hamparan sajadah
Kala kini buatku merasakan ringannya kapas yang diterbangkan angin
(Malam Diawal Januari ’08)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...
puisi nya bagus... lam nal..
BalasHapusSyukran..
BalasHapussalam kenal juga.
BalasHapus