“Afwan kak, ana tidak bisa ikut bergabung!”.
Sebuah sms mampir di inbox, pagi yang cerah itu dihentakkan oleh sms seorang akhwat yang kami ajak ikut bergabung dalam kafilah dakwah. Kepala saya sedikit berdenyut membacanya. Empat bulan lalu, sebuah sms yang sama juga saya terima. Sejenak saya merenung, mencoba menggali memori yang tersimpan rapi dalam benak. Ada apa dengan jalan dakwah ini?. Saya harus mengakui jalan dakwah bukan jalan yang mudah, namun agak miris hati saya manakala kalimat tersebut terlontar dengan mudahnya. Tak hanya itu, setahun lalu saya kembali terngiang dengan percakapan seorang akhwat senior. Ia bertutur tentang seorang akhwat yang juga mundur dari kafilah dakwah dengan alasan yang sampai sekarang saya tak mengerti. Ia enggan melanjutkan perjuangan dengan berkata, masih banyak jalan lain untuk meraih surga Allah. Tidak hanya dengan jalan dakwah katanya. Pertama kali mendengarkan pernyataan itu, saya yang masih minim ilmu-pun membenarkannya. Mencoba mencari justifikasi atas pernyataann tersebut. Yah, betul surga Allah bisa kita peroleh dengan berbagai macam cara. Sedikit pernyataan itu mempengaruhi prinsip saya dalam berdakwah dalam amal jama’i. tapi, seiring waktu saya kemudian tidak membenarkannya. Sebab, saya menjadi orang yang pertama membenarkan komentar akhwat yang menceritakan kejadian tersebut. Akhwat senior tersebut mengatakan…
“Saya pun harus mengakui dek, pernyataan itu benar adanya dek. Tapi, secara pribadi saya mengatakan insya Allah dengan jalan dakwah inilah yang akan mengantarkan saya menuju surga Allah. Dengan jalan dakwah ini, saya merasa bisa tetap istiqomah. Meskipun sulit, namun hati, pikiran dan jiwa kita terarah untuk memikirkan tegaknya kalimat Tauhid diatas muka bumi. Meskipun hal tersbut tidak sebanding dengan pengorbanan para shahabat yang mengorbankan harta dan jiwanya. Tapi, Insya Allah saya berazzam untuk itu”. Hmmm…..dua tahun lalu saya masih menganggapnya sebagai sebuah kalimat idealis dari seorang akhwat. Tapi, seiring perjalanan waktu menjadi sebuah hal yang harus dipegang hingga akhir hayat.
Kembali kepada kisah sms itu, saya kembali bermuhasabah untuk meluruskan niat mengapa bergabung dalam kafilah dakwah ini. Subhanallah, harga sebuah surga tak bisa ditukar dengan amalan apapun. Lalu mengapa kita masih memilih-milih amalan. Meskipun saya sangat paham bahwa ada sahabat yang memperoleh surga Allah dengan shalat malamnya, shadaqahnya, puasanya. Namun, adakah satu saja, satu saja dari mereka yang mengatakan saya tak perlu berdakwah dan mengatakan Saya akan meraih surga Allah dengan jalan lain??
BalasHapusBismillah,,
MasyaaAllah kak,,
Nice postingan,,
Tidak ada keraguan dalam jalan dakwah,, akan indah pada waktunya,,
InsyaaAllah,,
Yang membuat kita akan ragu untuk meninggalkan jalan dakwah adalah title bahwa kita bukanlah pejuang yang terbaik bagi Allah,, karena kita yakin dengan meninggalkan jalan dakwah kita tahu bahwa akan ada pengganti yang pasti lebih baik bagi jalan dakwah itu sendiri setelah kita meninggalkannya, dan sungguh celakalah bagi orang-orang yang tergantikan
Sekali lagi jangan ragu, katakanlah Inilah jalanku!
BalasHapus
BalasHapusYah inilah jalanku,,
jalan yang penuh liku,
BalasHapusmoga tetap semangat dan istiqomah,
`doakan juga
aamiin Insya Allah..Intanshurullaha Yanshurkum..
BalasHapusiya siapa pun yg pernah ad di jalan ini pastinya akan merasakan kenikmatan yg ta dapat diungkap...sehingga ketika ad niatan tuk memungkiri itu pasti sulit hingga akhinrya tdk ingin meninggalkan...
BalasHapusBersyuskur atas nikmatNya
..pilih kita ada dalam lingkarann ini...