Bismillahirrahmanirrahim
Tereksposenya kisah Siti anak berusia enam tahun yang berdagang bakso keliling kampungnya ke media massa elektronik mengundang banyak simpati masyarakat.
Pagi yang cerah di ahad ini sebelum saya melangkahkan kaki keluar rumah menuju tempat pertemuan rutin bulanan, saya menyempatkan diri melirik tivi barang sejenak guna mengetahui cerita hangat masyarakat Indonesia berikut seabrek masalah bangsa yang tak kunjung habis. Mulai dari demonstrasi yang tak mereda akibat kenaikan harga BBM, wabah tomcat yang melanda daerah jawa timur, kenaikan harga sembako sebagai efek isu kenaikan BBM hingga berujung pada talk show tentang Siti si Bocah penjual bakso.
Stasiun TV yang mengundang Siti beserta keluarga diwawancarai oleh anchor dengan beberapa pertanyaan yang menurut saya sedikit “memaksa” sang Ibu untuk mengakui bahwa ini eksploitasi masa emas anak untuk belajar dan bermain dengan bekerja mencari nafkah. Bahkan Siti pun ketika ditanya apakah Ia merasa kelelahan dengan aktivitas berdagang bakso yang ditekuninya pun menjawab kalau Ia merasa lelah. Maka makin kencanglah sang Anchor mengejar. Meskipun saya memandangnya sebagai sebuah talik ulur program acara. Stasiun TV tersebut juga mengundang Ayah Edy. Tau Ayah Edy kan???