Selasa, 26 Desember 2017

Para Penjaga Wahyu

Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya masih berstatus santri tahfidz yang tertatih menyetorkan hafalan dan memuroja'ahnya, sisanya hanya kemampuan manajemen kantor yang ala kadarnya dan jauh dari standar, dalam pada itu saya sadar sesadar-sadarnya bahwa ada alasan kehadiran saya di tempat para penjaga wahyu ini, yaitu alasan untuk senantiasa berbenah diri dan terus beramal karena amalan saya masih begitu minim. 

Setahun lebih sang Penentu Takdir menuliskan keberadaan saya di Markaz Imam Malik. Dulu sekali, saat saya baru saja melepas status mahasiswa dan menikmati masa tenggang meski tak dituntut untuk kerja secepatnya membuat saya punya waktu untuk merenung kemudian memilih menjadi apa. Anyway, sejak SMA saya sudah punya garis tegas visi misi hidup, sekolah setinggi mungkin dan jadi "orang" di mata orang-orang. Beraktivitas sebagai aktivis dakwah tak menghalangi itu, justru saya semakin menjadi-jadi. Belajar adalah kebutuhan, buku adalah kewajiban maka lanjut pendidikan megister sudah kudu bin wajib. Oke, tapi jangan nyusahin bapak sama mama yah. Yupp, maka rajinlah saya berburu beasiswa. Browsing, searching, saving saya jabanin. Berusaha menyelesaikan setiap petunjuk sang empu beasiswa lewat situs web. Berkas sudah 70% lengkap, tapi waktu masih panjang.

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...