Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya masih berstatus santri tahfidz yang tertatih menyetorkan hafalan dan memuroja'ahnya, sisanya hanya kemampuan manajemen kantor yang ala kadarnya dan jauh dari standar, dalam pada itu saya sadar sesadar-sadarnya bahwa ada alasan kehadiran saya di tempat para penjaga wahyu ini, yaitu alasan untuk senantiasa berbenah diri dan terus beramal karena amalan saya masih begitu minim.
Setahun lebih sang Penentu Takdir menuliskan keberadaan saya di Markaz Imam Malik. Dulu sekali, saat saya baru saja melepas status mahasiswa dan menikmati masa tenggang meski tak dituntut untuk kerja secepatnya membuat saya punya waktu untuk merenung kemudian memilih menjadi apa. Anyway, sejak SMA saya sudah punya garis tegas visi misi hidup, sekolah setinggi mungkin dan jadi "orang" di mata orang-orang. Beraktivitas sebagai aktivis dakwah tak menghalangi itu, justru saya semakin menjadi-jadi. Belajar adalah kebutuhan, buku adalah kewajiban maka lanjut pendidikan megister sudah kudu bin wajib. Oke, tapi jangan nyusahin bapak sama mama yah. Yupp, maka rajinlah saya berburu beasiswa. Browsing, searching, saving saya jabanin. Berusaha menyelesaikan setiap petunjuk sang empu beasiswa lewat situs web. Berkas sudah 70% lengkap, tapi waktu masih panjang.
Sehingga saya sedikit membelokkan arah tujuan, setidaknya waktu yang tersisa tak terbuang percuma. Bahasa arab. Ya, saya memutuskan menjadi thalibah di salah satu ma'had. Lumayan kan 6 bulan bisa cuap cuap dalam bahasa Al Qur'an. Dan saya salah besar. Enam bulan tidak menghasilkan apa-apa. Saya sama sekali tidak bisa bahasa arab, kosakata syukran, afwan dll baru bertambah dua hingga tiga kata. Bukan, bukan karena saya malas, bahkan saya mencapai derajat mumtazah di semester awal, tapi karena memang saya baru benar-benar akan mempelajarinya selama dua tahun lagi. What?? Itu sama saja dengan pendidikan selama dua tahun di megister. Maka, dilema lah saya. Bertahan di ma'had atau meneruskan rencana awal. Bisa tebak kisah selanjutnya? Yah, saya bertahan di ma'had. Kalau mati setidaknya saya tak perlu menyesal pernah menghabiskan umur untuk belajar bahasa istimewa ini, fikir saya waktu itu. Semester demi semester berjalan, ustadzaat sangat murah hati untuk terus menaikkan saya pada mustawaa selanjutnya, padahal nyatanya saya thalibah yang prestasinya standar. Saya bahkan berfikir, apa ustadzaat sedang bercanda. Dan percayalah, setiap naik tingkat saya hanya bisa nyengir di kelas. Hahaha...
Waktu berlalu, dua semester akhir di ma'had sebuah pinangan menjadi bagian dari perjuangan Al Qur'an begitu menarik hati, tanpa ba bi bu saya iyakan saja. Terlebih yang mengajak adalah dosen saya sendiri. Ah, kapan lagi? Besok kalau mati semoga bisa jadi amal pemberat nanti. Dan disinilah saya, menapaki jejak-jejak wahyu, membersamai santri melafalkan huruf demi huruf, menitis ilmu yang tak seberapa meski diri pun terseok. Alhamdulillah 'ala kulli hal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar