Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah,
sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz
favorit saya, ustadz Adian Husaini hafidzahullah. Yah, benar sekali. Seringnya
kita menyangka bahwa keilmuan ditunjukkan lewat seberapa banyak mimbar yang
telah kita taklukkan dan seberapa banyak khalayak yang telah kita pengaruhi
lewat lisan. Padahal sejatinya, menulis adalah kebiasaan para ulama. Mereka
menjadikan menulis sebagai aktivitas penting dan prioritas dari keseluruhan
amal sholih yang dilakukan sehari semalam.
Perhatian islam dalam dunia tulis menulis ditunjukkan ketika
Rasulullah memerintahkan agar tawanan perang yang memiliki kemampuan tulis
menulis untuk mengajarkan kepada kaum muslimin cara menulis.
Pendidikan dipilih
sebagai tebusannya. Setiap tawanan wajib mengajari sepuluh anak hingga pandai
menulis dan itu sebagai tebusan agar terbebas sebagai tawanan Badar. Saya terhenyak
sejenak memandangi lemari buku yang penuh dengan ratusan buku yang kini telah
menjadi perpustakaan pribadi. Buku-buku yang sudah saya koleksi sejak masih menempuh
pendidikan di bangku SMA, yang saya beli dengan menabung setiap harinya hingga
bisa membeli minimal dua eksemplar buku setiap
bulannya. Jika tradisi menulis ini tidak diletakkan dasarnya oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saya yakin tak akan ada ratusan buku
yang kini menjadi sumber referensi dan inspirasi saat saya mengalami kebuntuan.
Sejenak saya tersadar bahwa menulis adalah proses saya merekam jejak keilmuan,
bilapun tak ada yang membacanya hari ini, kelak anak-anak saya akan merasakan
bahwa Ibu mereka masih terus hidup meski tak lagi bersama dengan mereka.
Siapa yang tak kenal Ibnu Taimiyyah yang memiliki nama asli Abul
‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim Al Harroni, Syaikhul Islam yang hidup delapan abad
silam. Tak kurang dari 500 karya yang beliau tulis. Demikian kata Imam Adz
Dzahabi. Padahal beliau tak hidup di zaman digital seperti kita. Karya berupa
kitab, risalah, wasiat maupun nasihat yang hingga saat ini masih dikaji dan
dipaparkan di berbagai majelis ilmu, padahal sekali lagi beliau hidup berjarak
delapan abad dengan kita. Namun, beliau masih tetap hidup dalam karyanya. Maka,
demikianlah seorang dai. Kesuksesan dakwahnya tak diukur dari panjang usianya
tetapi perjuangan ini jauh lebih panjang daripada usia-usia manusia. Sehingga menulis
adalah tradisi yang harus kembali digalakkan, digencarkan dan dibiasakan. Menulis
haruslah menjadi perkara yang didahulukan sebelum menyampaikan ilmu. Dengannya seseorang
bisa benar-benar menyampaikan kebenaran dengan terarah. Ah.. saya lagaknya
merasa malu lagi untuk mencari alasan mengapa saya sempat vakum menulis dengan
dalih kesibukan atau apalah yang sebenarnya hanyalah pembenaran semata kemalasan
saya.
Jihad kita hari ini bukan sekedar jihad fisik tetapi jihad
literasi. Perang opini dan argumentasi baik yang lurus maupun menyesatkan sudah
terjadi secara sporadis. Sedangkan mimbar tak sanggup menjangkau banyak
pendengar. Seringkali justru saat keluar melangkah dari masjid, jamaah malah
lupa pokok pembahasan khotib entah karena tak fokus atau lebih parahnya karena
terkantuk-kantuk hendak tidur. Perubahan dunia literasi dari analog ke digital
mestinya banyak dimanfaatkan oleh alim intelek ummat ini untuk menyebarkan
pencerahan saat maraknya informasi palsu (baca:hoax) di tengah ummat. Sungguh,
jika kita abai dengan jihad bil qalam ini maka kehinaan akan menimpa ummat ini.
Sekali lagi, ini karena kita meninggalkan kebiasaan orang-orang shalih
terdahulu yaitu menulis. Satu hal yang menarik saat saya menjadi mahasiswi semester
3 di Ma’had Al Birr pada program persiapan bahasa (i’dad lughowy), salah satu
mata kuliah yang mengernyitkan kening saya adalah mata kuliah adab, saat
pertama kali membuka buku rujukan mata kuliah, saya berfikir akan mendapati
isinya penuh dengan poin-poin pelajaran adab. Ternyata saya salah besar, kitab
tersebut adalah kitab sastra. Lalu apa kaitannya adab dan sastra? Disinilah keindahannya.
Kata adab dalam bahasa arab memiliki dua makna, yang pertama etika atau adab,
kemudian yang kedua adalah ilmu kesusastraan. Yah, benar. Isi kitab rujukan
mata kuliah adab isinya adalah kalimat hikmah dan bait-bait syair yang cukup
memiringkan kepala dan leher saya waktu itu. Terlebih dosen yang menjelaskannya
adalah dosen asli impor dari Tunisia. Saya akan memilih duduk disisinya saat
beliau menjelaskan. Itu karena saya benar-benar tidak mengerti pelajaran
tersebut kecuali dengan bahasanya sendiri.
Merangkai kalimat yang indah bukan datang serta merta,
ternyata rangkaian kata yang indah bersajak hadir dari sikap hikmah sang penulis,
sedangkan sikap hikmah adalah buah adab. Sejak itu saya menjadi memahami bahwa
tradisi keadaban justru dibangun dari tradisi kesusastraan. Yah, sastra itu
adab. Tulisan-tulisan yang berkeadaban akan melahirkan para sastrawan sekaligus
intelektual. Lalu bagaimana membangun peradaban? Jelas, menulis adalah salah
satu pondasi besarnya. Ummat ini harus dibiasakan menulis, minimal mencatat
saat menghadiri tarbiyah rutin, halaqah ilmiyah, ta’lim ataupun muhadharah
bukan merekam lantas merasa telah menjadi orang-orang yang berilmu. Dan hendaknya seseorang yang telah memilih
menderma diri pada dunia literasi atau jihad bil qalam ini menjadikan tulisannya
memiliki ruh dakwah, perjuangan dan jihad, bukan untuk popularitas dirinya. Wallohu
waliyyutaufiiq
5 Dzulqi'dah 1439 H
Memandangi tumpukan bacaan yang menagih untuk dituntaskan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar