Rabu, 18 Juli 2018

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.


Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah, sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favorit saya, ustadz Adian Husaini hafidzahullah. Yah, benar sekali. Seringnya kita menyangka bahwa keilmuan ditunjukkan lewat seberapa banyak mimbar yang telah kita taklukkan dan seberapa banyak khalayak yang telah kita pengaruhi lewat lisan. Padahal sejatinya, menulis adalah kebiasaan para ulama. Mereka menjadikan menulis sebagai aktivitas penting dan prioritas dari keseluruhan amal sholih yang dilakukan sehari semalam.
Perhatian islam dalam dunia tulis menulis ditunjukkan ketika Rasulullah memerintahkan agar tawanan perang yang memiliki kemampuan tulis menulis untuk mengajarkan kepada kaum muslimin cara menulis.
Pendidikan dipilih sebagai tebusannya. Setiap tawanan wajib mengajari sepuluh anak hingga pandai menulis dan itu sebagai tebusan agar terbebas sebagai tawanan Badar. Saya terhenyak sejenak memandangi lemari buku yang penuh dengan ratusan buku yang kini telah menjadi perpustakaan pribadi. Buku-buku yang sudah saya koleksi sejak masih menempuh pendidikan di bangku SMA, yang saya beli dengan menabung setiap harinya hingga bisa membeli minimal dua eksemplar buku setiap  bulannya. Jika tradisi menulis ini tidak diletakkan dasarnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saya yakin tak akan ada ratusan buku yang kini menjadi sumber referensi dan inspirasi saat saya mengalami kebuntuan. Sejenak saya tersadar bahwa menulis adalah proses saya merekam jejak keilmuan, bilapun tak ada yang membacanya hari ini, kelak anak-anak saya akan merasakan bahwa Ibu mereka masih terus hidup meski tak lagi bersama dengan mereka.
Siapa yang tak kenal Ibnu Taimiyyah yang memiliki nama asli Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim Al Harroni, Syaikhul Islam yang hidup delapan abad silam. Tak kurang dari 500 karya yang beliau tulis. Demikian kata Imam Adz Dzahabi. Padahal beliau tak hidup di zaman digital seperti kita. Karya berupa kitab, risalah, wasiat maupun nasihat yang hingga saat ini masih dikaji dan dipaparkan di berbagai majelis ilmu, padahal sekali lagi beliau hidup berjarak delapan abad dengan kita. Namun, beliau masih tetap hidup dalam karyanya. Maka, demikianlah seorang dai. Kesuksesan dakwahnya tak diukur dari panjang usianya tetapi perjuangan ini jauh lebih panjang daripada usia-usia manusia. Sehingga menulis adalah tradisi yang harus kembali digalakkan, digencarkan dan dibiasakan. Menulis haruslah menjadi perkara yang didahulukan sebelum menyampaikan ilmu. Dengannya seseorang bisa benar-benar menyampaikan kebenaran dengan terarah. Ah.. saya lagaknya merasa malu lagi untuk mencari alasan mengapa saya sempat vakum menulis dengan dalih kesibukan atau apalah yang sebenarnya hanyalah pembenaran semata kemalasan saya.
Jihad kita hari ini bukan sekedar jihad fisik tetapi jihad literasi. Perang opini dan argumentasi baik yang lurus maupun menyesatkan sudah terjadi secara sporadis. Sedangkan mimbar tak sanggup menjangkau banyak pendengar. Seringkali justru saat keluar melangkah dari masjid, jamaah malah lupa pokok pembahasan khotib entah karena tak fokus atau lebih parahnya karena terkantuk-kantuk hendak tidur. Perubahan dunia literasi dari analog ke digital mestinya banyak dimanfaatkan oleh alim intelek ummat ini untuk menyebarkan pencerahan saat maraknya informasi palsu (baca:hoax) di tengah ummat. Sungguh, jika kita abai dengan jihad bil qalam ini maka kehinaan akan menimpa ummat ini. Sekali lagi, ini karena kita meninggalkan kebiasaan orang-orang shalih terdahulu yaitu menulis. Satu hal yang menarik saat saya menjadi mahasiswi semester 3 di Ma’had Al Birr pada program persiapan bahasa (i’dad lughowy), salah satu mata kuliah yang mengernyitkan kening saya adalah mata kuliah adab, saat pertama kali membuka buku rujukan mata kuliah, saya berfikir akan mendapati isinya penuh dengan poin-poin pelajaran adab. Ternyata saya salah besar, kitab tersebut adalah kitab sastra. Lalu apa kaitannya adab dan sastra? Disinilah keindahannya. Kata adab dalam bahasa arab memiliki dua makna, yang pertama etika atau adab, kemudian yang kedua adalah ilmu kesusastraan. Yah, benar. Isi kitab rujukan mata kuliah adab isinya adalah kalimat hikmah dan bait-bait syair yang cukup memiringkan kepala dan leher saya waktu itu. Terlebih dosen yang menjelaskannya adalah dosen asli impor dari Tunisia. Saya akan memilih duduk disisinya saat beliau menjelaskan. Itu karena saya benar-benar tidak mengerti pelajaran tersebut kecuali dengan bahasanya sendiri.
Merangkai kalimat yang indah bukan datang serta merta, ternyata rangkaian kata yang indah bersajak hadir dari sikap hikmah sang penulis, sedangkan sikap hikmah adalah buah adab. Sejak itu saya menjadi memahami bahwa tradisi keadaban justru dibangun dari tradisi kesusastraan. Yah, sastra itu adab. Tulisan-tulisan yang berkeadaban akan melahirkan para sastrawan sekaligus intelektual. Lalu bagaimana membangun peradaban? Jelas, menulis adalah salah satu pondasi besarnya. Ummat ini harus dibiasakan menulis, minimal mencatat saat menghadiri tarbiyah rutin, halaqah ilmiyah, ta’lim ataupun muhadharah bukan merekam lantas merasa telah menjadi orang-orang yang berilmu.  Dan hendaknya seseorang yang telah memilih menderma diri pada dunia literasi atau jihad bil qalam ini menjadikan tulisannya memiliki ruh dakwah, perjuangan dan jihad, bukan untuk popularitas dirinya. Wallohu waliyyutaufiiq


5 Dzulqi'dah 1439 H
Memandangi tumpukan bacaan yang menagih untuk dituntaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...