Rabu, 18 Juli 2018

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.


Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah, sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favorit saya, ustadz Adian Husaini hafidzahullah. Yah, benar sekali. Seringnya kita menyangka bahwa keilmuan ditunjukkan lewat seberapa banyak mimbar yang telah kita taklukkan dan seberapa banyak khalayak yang telah kita pengaruhi lewat lisan. Padahal sejatinya, menulis adalah kebiasaan para ulama. Mereka menjadikan menulis sebagai aktivitas penting dan prioritas dari keseluruhan amal sholih yang dilakukan sehari semalam.
Perhatian islam dalam dunia tulis menulis ditunjukkan ketika Rasulullah memerintahkan agar tawanan perang yang memiliki kemampuan tulis menulis untuk mengajarkan kepada kaum muslimin cara menulis.

Senin, 15 Januari 2018

Berdoalah

Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu.
ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (Q.S. Al-A’raf:55)
Berdoalah, sebab ia telah terkabul hanya saja ia menunggu waktu yang tepat untuk diulur padamu dengan lembut. Berdoalah, sebab tanda terkabulnya doa kata Umar bin Khattab adalah saat engkau diberi taufik untuk berdoa dan terus meminta. Maka, jangan bosan mengulanginya meski itu dalam bilangan purnama hingga dasawarsa ataupun milenia. Lama? itu hitunganmu, padahal boleh jadi doamu berlipat-lipat balasannya kelak saat tak ada yang mampu kau raih selain pundi doa yang engkau simpan agar diselamatkan dari beratnya hisab.

Minggu, 07 Januari 2018

Rindu



Pada rindu yang membuncah

Terbentang jarak memisah

Dalam detak jantung yg memacu

Aku tertahan

Pada mula yang tak mulus

Kita merasa

Merasai rasa yang sama

Meski raga tiada bersua

Membentang jarak yang kian menghalau

Selasa, 26 Desember 2017

Para Penjaga Wahyu

Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya masih berstatus santri tahfidz yang tertatih menyetorkan hafalan dan memuroja'ahnya, sisanya hanya kemampuan manajemen kantor yang ala kadarnya dan jauh dari standar, dalam pada itu saya sadar sesadar-sadarnya bahwa ada alasan kehadiran saya di tempat para penjaga wahyu ini, yaitu alasan untuk senantiasa berbenah diri dan terus beramal karena amalan saya masih begitu minim. 

Setahun lebih sang Penentu Takdir menuliskan keberadaan saya di Markaz Imam Malik. Dulu sekali, saat saya baru saja melepas status mahasiswa dan menikmati masa tenggang meski tak dituntut untuk kerja secepatnya membuat saya punya waktu untuk merenung kemudian memilih menjadi apa. Anyway, sejak SMA saya sudah punya garis tegas visi misi hidup, sekolah setinggi mungkin dan jadi "orang" di mata orang-orang. Beraktivitas sebagai aktivis dakwah tak menghalangi itu, justru saya semakin menjadi-jadi. Belajar adalah kebutuhan, buku adalah kewajiban maka lanjut pendidikan megister sudah kudu bin wajib. Oke, tapi jangan nyusahin bapak sama mama yah. Yupp, maka rajinlah saya berburu beasiswa. Browsing, searching, saving saya jabanin. Berusaha menyelesaikan setiap petunjuk sang empu beasiswa lewat situs web. Berkas sudah 70% lengkap, tapi waktu masih panjang.

Rabu, 11 Mei 2016

Anak Kecil yang kuberi nama Hujan

Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi,  tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan sebagai tentor lagi tapi teman se-ma’had dan se-kantor. Meski begitu, saya masihlah si kakak, dan dia masih si adik. Kami bukan saudara kandung. Boro-boro. Dia tinggi, saya tingginya gak amat-amat. Dia tirus, saya bulat meski sama-sama tak layak disebut berat ideal. Hujan, saya memberinya nama itu. Nama yang menurut saya terpaksa saya beri karena untuk memberinya nama bunga, saya tak sanggup. Saya tak sanggup kalau dia jadi bunga yang diinjak-injak sapi atau sejenisnya. Hahaha.. Peace.. Memberinya nama pelangi, dia Cuma muncul sesekali, baiklah kamu hujan saja yah dik. Simpul saya malam itu. Dan dia pun bersorak.

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...