Jumat, 31 Desember 2010

Mengapa enggan bergabung dalam kafilah dakwah?

“Afwan kak, ana tidak bisa ikut bergabung!”.

Sebuah sms mampir di inbox, pagi yang cerah itu dihentakkan oleh sms seorang akhwat yang kami ajak ikut bergabung dalam kafilah dakwah. Kepala saya sedikit berdenyut membacanya. Empat bulan lalu, sebuah sms yang sama juga saya terima. Sejenak saya merenung, mencoba menggali memori yang tersimpan rapi dalam benak. Ada apa dengan jalan dakwah ini?. Saya harus mengakui jalan dakwah bukan jalan yang mudah, namun agak miris hati saya manakala kalimat tersebut terlontar dengan mudahnya. Tak hanya  itu, setahun lalu saya kembali terngiang dengan percakapan seorang akhwat senior. Ia bertutur tentang seorang akhwat yang juga mundur dari kafilah dakwah dengan alasan yang sampai sekarang saya tak mengerti. Ia enggan melanjutkan perjuangan dengan berkata, masih banyak jalan lain untuk meraih surga Allah. Tidak hanya dengan jalan dakwah katanya. Pertama kali mendengarkan pernyataan itu, saya yang masih minim ilmu-pun membenarkannya. Mencoba mencari justifikasi atas pernyataann tersebut. Yah, betul surga Allah bisa kita peroleh dengan berbagai macam cara. Sedikit pernyataan itu mempengaruhi prinsip saya dalam berdakwah dalam amal  jama’i. tapi, seiring waktu saya kemudian tidak membenarkannya. Sebab, saya menjadi orang yang pertama membenarkan komentar akhwat yang menceritakan kejadian tersebut. Akhwat senior tersebut mengatakan…

“Saya pun harus mengakui dek, pernyataan itu benar adanya dek. Tapi, secara pribadi saya mengatakan insya Allah dengan jalan dakwah inilah yang akan mengantarkan saya menuju surga Allah. Dengan jalan dakwah ini, saya merasa bisa tetap istiqomah. Meskipun sulit, namun hati, pikiran dan  jiwa kita terarah untuk memikirkan tegaknya kalimat Tauhid diatas muka bumi. Meskipun hal tersbut tidak sebanding dengan pengorbanan para shahabat yang mengorbankan harta dan jiwanya. Tapi, Insya Allah saya berazzam untuk itu”. Hmmm…..dua tahun lalu saya masih menganggapnya sebagai sebuah kalimat idealis dari seorang akhwat. Tapi, seiring perjalanan waktu menjadi sebuah hal yang harus dipegang hingga akhir hayat.

Selasa, 28 Desember 2010

Senandung

Gelap semakin menenggelamkan malam
Dalam sisa-sisa kehangatan mentari sore
Sambil ku raba pusara hati yang telah kering oleh evaporasi peradaban
Kurasa tiada yang berarti, hampa

Sayup-sayup ku dengar lantunan hewan malam
Memberi kabar bahwa malam ini akan dingin
Sedingin kembara kalbu yang mulai rapuh
Dimana lagi kan kucari lentera

Ketika manik mata tak mampu menampung keluh kesah
Maka, ia akan tumpah dalam bait-bait doa diatas hamparan sajadah
Kala kini buatku merasakan ringannya kapas yang diterbangkan angin

(Malam Diawal Januari ’08)

Senin, 20 Desember 2010

Kapan Nyusul???(Episode Walimah)

Saya baru saja bangkit dari peraduan di malam yang menanjak sepertiga yang pertama, hari yang cukup padat mengantarkan saya terlelap lebih cepat dari biasanya, tapi dasar tak biasa hanya dua jam mata ini kembali melek. Dan ketika terjaga, saya dikagetkan oleh sms dari salah seorang akhwat.

“Kak, sudah tau ada lagi akhwat yang akan walimah?”. Kembali teringat percakapanku dengan Akhwat Pembina soal akhwat yang akan menggenapkan setengah dinnya itu. Serta merta ku jawab singkat. “Iya”. Tak berselang beberapa detak jam, handphone kembali berdering. *Hm…wah hebohh nih…..*bisik saya dalam hati.

”Kakak taunya akhwat yang itu kan?”.

“Iya dek, siapa lagi. Sudah lama tersiar kabar itu. Kenapa?”

“ wah, akhwat laris manis yah?:-)”*Kali ini lengkap dengan smile lagi..duh dinda bisa saya bayangkan wajah sumringahmu melihat rekan-rekanmu dah menikah.

“Kapan nyusul kak?”*Pertanyaan yang sudah dua bulan ini sering terlontar dari akhwat-akhwat yang lebih muda pada kami yang “sedikit”lebih tua*he he he….enggan sekalian bilang tua ding!


Minggu, 14 November 2010

Pengen nulis, tapi…

Sederet kalimat telah hadir di kepala saya, hendak ditata rapi membentuk sebuah tulisan. Setiap hari selalu ada saja cerita yang bisa saya tulis, tapi…Saya pengen nulis kisah tersebut, tapi teringat kalo saya masih harus memeriksa soal ujian siswa yang sudah tertunda beberapa pekan, pengen nulis tapi teringat kalo saya harus mengerjakan tugas dari guru pamong, pengen nulis tapi teringat pakaian yang harus dilipat ba’da dicuci, pengen nulis tapi teringat kalo saya harus menghubungi beberapa orang akhwat soal persiapan kegiatan, pengen nulis tapi teringat harus muraja’ah materi biar besok mantap penyampaiannya, pengen nulis tapi ingat kalo seorang teman minta dibantu mengerjakan sebuah tugas. Pengen, pengen, pengen…tapi…nah lho, sekarang harus tambah lagi kalo saya harus menyelesaikan jahitan!Puff….Pengen nulis, tapi….

Jumat, 22 Oktober 2010

Anak Bukan Penghalang Dakwah

Puff….badan saya masih terasa lelah setelah beraktivitas seharian, inginnya sih langsung tidur pulas diatas pulau kapuk, merebahkan tubuh dan melepas penat. Tapi, khawatir inspirasi ini kelewat buat dituliskan, maka saya bangkit lagi lantas menekan tombol power laptop, saya lantas melangkahkan kaki menuju dapur, mengambil sebuah gelas keramik putih hadiah ultah kota Makassar yang ke-400 lalu menuang segelas teh hangat dan mengoleskan margarine pada roti tawar dan duduk di depan laptop setelah sebelumnya menekan beberapa tuts keyboard mengetik password sembari menyangkutkan headset dikepala mendengarkan radio melalui hp untuk tau situasi kota saat ini. yah, beginilah gaya saya menggali inspirasi, mengais kata-kata untuk dijejer rapi membentuk sebuah tulisan sederhana tentang hidup. Meskipun sesekali harus tersentak karena nada sms masuk yang memekakkan gendang telinga.

Selasa, 21 September 2010

Episode Baru bersama Gadis Sipit

Saya melihat gadis itu ketika masih menjadi Mahasiswa baru di UNM, seorang gadis sipit dengan kepala yang tak dihiasi dengan jilbab. Saat itu saya mengambil kesimpulan, mungkin ia seorang gadis nasrani. Karena FMIPA UNM terkenal dengan kampus religious, jangan berani masuk kalau tak menggunakan jilbab. Tapi, ketika seorang akhwat mengatakan dia seorang muslimah, menurut saya dia terlalu berani untuk masuk kampus tanpa berjilbab. Meskipun saya tau, ketika di luar kampus dan di kos-kosan rata-rata mahasiswi menanggalkan jilbabnya seolah tak berbekas sama sekali makna perintah Allah tersebut untuk menjaga mereka. Kami berbeda jurusan tapi gedung kami saling berhadapan. Ia cukup menarik perhatian penghuni kampus, kulitnya yang putih dan parasnya yang tak membosankan plus karakternya yang supel, murah senyum serta sifat tomboy membuat ia memiliki banyak teman pria.

Saya masih ingat Waktu itu kami sebagai Maba diwajibkan mengikuti berbagai mata kuliah dasar sains baik itu kimia, fisika, kalkulus dan biologi berikut dengan praktikumnya, maka setiap gedung akan kami sambangi setiap harinya untuk “BURAS” alias Buru Asisten hanya sekedar meminta tanda tangan mereka. Bersama dengan rekan sekelompoknya pun ia menunggu waktu itu. Kami pun berpapasan di tangga, tapi tak saya temui sikap murah senyum tersebut diberikan pada saya. Yah..saya mencoba

Minggu, 08 Agustus 2010

Kapal Kembali Melaju...

Bismillah..



Kapal kami melaju kembali setelah sejenak menurunkan jangkar disebuah pulau harta karun, terjadi pembagian warisan yang begitu berharga. Di pulau tersebut kami tinggal dua hari satu malam. Subhanallah, betul lah bahwa jika segenap potensi kita kerahkan untuk mencari harta karun maka kita akan mendapatkannya. Kepada seluruh awak kapal yang telah turun dari kapal dan rela menelusuri rimba di pulau tersebut hingga mendapatkan harta karun ku ucapkan Barakallahu fikunna, semoga warisan atau harta karun tersebut dapat menjadi bekal sepanjang perjalanan kita. Adapun yang enggan turun dari kapal karena lelah dalam perjalanan atau kurang tertarik dengan iming-iming harta karun yang dijanjikan semoga tetap bisa merasakan warisan dari saudarinya yang lain, aku secara pribadi akan membagi harta karun tersebut jika kalian meminta. Karena pastinya harta karunku tak akan berkurang dengan memberikannya pada kalian. Sekarang kita akan melanjutkan perjalanan, tarik jangkarnya....Intanshurullaha Yanshurkum...Allahu Akbar..Tariiiiiikk.....Kembangkan layar...kembali ke posisi masing-masing. Dan kepada seluruh Kepala Kabin, ku harapkan tetaplah tegar berdiri. Kita adalah satu TIM baik di dunia terlebih lagi di akhirat. Uhubbukum Fillah.

Senin, 10 Mei 2010

Fragmen untuk Huda

Fase yang berbeda telah engkau pilih

Menentang arus yang tak bersahabat

Tak ku lihat redup semangat tuk mengayuh dayung bajamu

Masih ada asa yang kau tuang dalam cawan hatimu

Bahwa esok kelak kau akan sampai pada pelabuhan yang kau tuju

Fase yang berbeda telah kau pahat

Kau ukir menjadi sebuah prasasti perubahan

Selasa, 16 Maret 2010

Cinta

Ku tepis cinta bukan karena ia dosa
namun ia telah salah memilih posisi dan waktu
Cinta ku tepis bukan karena ia nista,
hanya saja cinta terlihat begitu indah hingga melupakan dan melenakan
Cinta itu ku tepis bukan dengan logika, amarah atau deraian air mata
Tapi ia ditepis dengan doa kepada Sang Empunya cinta
Dan sungguh, cinta hanya indah  manakala mekar pada waktunya.
(Rezky Batari Razak~Guru Ngaji Kampung)

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...