Ketika diberi masa untuk mencetak generasi maka, disitulah kita membangun peradaban.
“Hhh… sudahlah, kau tak membantu sama sekali. Aku menghubungimu untuk ditenangkan menghadapi ini. Tapi, sudahlah”. Desahnya lirih.
“aku bicara lebih realistis. Memang kamu butuh itu kan? Tapi ini sudah diluar kebiasaan”. Sergahku sengit.
“Sebentar kita lanjut. Aku sudah mau pulang dan tidak mungkin berbicara diatas motor. Okey?” lanjutku.
“Hmm… aku tidak janji bisa nelpon lagi. Assalamu alaaikum”
“kamu harus menelepon lagi, wa’alaykumussalam”.
Tut, tut, tut…
Telepon genggam ditanganku kumasukkan ke dalam saku tas. Senja kemerahan mengantarku pulang ke rumah. Itu percakapan dengan sahabatku via telepon sore itu. Sepanjang perjalanan aku berfikir, betapa kasihannya sahabatku menjadi guru yang tak digaji berbulan-bulan. Sekolah baru yang ditempatinya mengabdi belum mampu membiayai gaji guru-gurunya, karena masih harus berusaha memenuhi kelengkapan berkas agar layak dinyatakan sebagai sebuah sekolah berstatus negeri.
