Pufff.......nampaknya perjalanan menuju Amanagappa mengalami kendala, entah karena alasan apa proposal yang sudah rapi jali dan siap dipertaruhkan di ruang seminar harus mengalami penolakan di ruang prodi. Kurang lebih dua jam antrian sampai giliran saya untuk mengajukan pada prodi meminta pembahas seminar, namun jauh panggang dari api belum juga proposal itu dibaca sudah dipental duluan melihat judulnya. Ilahi Rabbi…saya urut dada. Alasannya? Karena penelitian saya sulit!mendengar alasan itu saya bergumam dalam hati, “penelitian sulit bukan alasan untuk dipental kan?” Alasan lainnya adalah penelitian saya menyangkut psikologi pendidikan yang ambil spesialisasi perkembangan peserta didik sedangkan saya adalah calon sarjana pendidikan biologi.Gubrak!!yah…tapi, apa mau dikata? Saya harus bersabar. Dengan langkah gontai saya meninggalkan ruang prodi. …yang lebih hebatnya lagi seharian itu, ada tiga orang yang berasal dari satu pembimbing yang mengalami nasib serupa. Dua orang termasuk saya proposalnya ditolak sedangkan rekan yang lain malah “dibantai” di ruang seminar hasil. Sampai-sampai dosen bersitegang, satu sisi dosen ada yang membela nah di sisi lain ada yang menolak dicantumkannya satu kata pada penelitiannya karena satu kata itu tidak terintegrasi pada penelitian rekan saya..
Kamis, 28 April 2011
Minggu, 17 April 2011
Harapan
Tak pupus asa di dada
Akan gema rindu cinta
Yang membuai dan mengantarkan menuju surgaNya
Tak lekang menguap benak
Di ruang penuh tanda
Insya Allah..
Perjalanan mengarunginya harus terganti dengan sang Nakhoda baru, yang lebih baik, lebih kuat, lebih cinta, lebih lebih dan lebih…tak henti dada membuncah gemeretak meletakkan sebuah amanah yang entah menyelamatkan ataukah menjadi pemicu gugurnya amalan yang lain. Aku bukan lari, bukan tak peduli, tapi ku sedang terjaga menyaksikan pertumbuhan jiwa-jiwa yang meneruskan perjuangan. Aku bukan laksana pohon besar dengan rerumputan dibawahnya yang siap terpapar sang angin berdiri kokoh, namun aku pun seperti rumput yang siap dihantam puyuh bedanya akarku dibuatNya “sedikit” lebih kuat pikirku…
Hari ini ku kembali menjadi rumput yang siap mempercantik taman perjuangan yang lain. Ku harap ku siap menjalaninya, entah seperti apa tanah tempatku tumbuh, entah seperti apa puyuh yang kan kuhadapi. Namun, biarlah sang Kekasih memberikan jawabannya..
(Jumat Ba’da shubuh, dalam sahutan pagi yang menyemangati hati yang sendu)
Akan gema rindu cinta
Yang membuai dan mengantarkan menuju surgaNya
Tak lekang menguap benak
Di ruang penuh tanda
Insya Allah..
Perjalanan mengarunginya harus terganti dengan sang Nakhoda baru, yang lebih baik, lebih kuat, lebih cinta, lebih lebih dan lebih…tak henti dada membuncah gemeretak meletakkan sebuah amanah yang entah menyelamatkan ataukah menjadi pemicu gugurnya amalan yang lain. Aku bukan lari, bukan tak peduli, tapi ku sedang terjaga menyaksikan pertumbuhan jiwa-jiwa yang meneruskan perjuangan. Aku bukan laksana pohon besar dengan rerumputan dibawahnya yang siap terpapar sang angin berdiri kokoh, namun aku pun seperti rumput yang siap dihantam puyuh bedanya akarku dibuatNya “sedikit” lebih kuat pikirku…
Hari ini ku kembali menjadi rumput yang siap mempercantik taman perjuangan yang lain. Ku harap ku siap menjalaninya, entah seperti apa tanah tempatku tumbuh, entah seperti apa puyuh yang kan kuhadapi. Namun, biarlah sang Kekasih memberikan jawabannya..
(Jumat Ba’da shubuh, dalam sahutan pagi yang menyemangati hati yang sendu)
Kamis, 07 April 2011
Cinta?Again!
Again!topik yang bagi saya tak pernah habisnya untuk dibahas oleh siapa saja dan dalam masa yang tak pernah lekang. Cinta…memaknainya tak butuh sederet teori. Memaknainya tak butuh ratusan seminar atau talk show. Karena ia bukan kata sifat atau kata benda. Cinta, amor, love, hubb or aid dan sejumput kata asing lain adalah sebuah kata kerja. Maka memaknai cinta adalah memaknai kerja. Lalu bagaimana dengan proses kerja itu sendiri?. Cinta bekerja dengan awalan men- bukan di-. Mencintai berarti memberi cinta, bukan dicintai yang berarti diberikan cinta. Hidup yang penuh dengan kerja untuk men-cintai, adalah sebuah hidup untuk memaknai hidup. Sebagian besar bahkan kebanyakan orang lebih berfokus untuk menunggu cinta yang dicintai tanpa berfokus untuk memberi cinta pada yang dicinta. Hm…cinta..
Suatu hari seorang sahabat pernah berkata begini pada saya,
Selasa, 05 April 2011
Jalan itu telah kau pilih, maka susurilah....
Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup bukanlah pillihan mudah, bukan pula jalan yang serupa dengan jalan berhias taman dipinggirannya apalagi serupa jalan tol yang bebas hambatan. Memilih jalan dakwah adalah pilihan besar yang pasti ujungnya adalah jannah-Nya. Seringkali terdengar sebuah keluhan hati dari saudari disekitar kita bahwa mereka lelah dengan jalan yang telah mereka pilih tersebut, yang jika keluhan itu tidak segera di “treatment” berakibat pada mundurnya mereka dari jalan dakwah ini yang secara otomatis menambah lagi para penonton bukan pemain. Jalan dakwah ketika telah dipilih sebagai jalan hidup maka, pada hakikatnya orang-orang yang telah mundur dari jalan tersebut adalah orang yang sedang tidak berada dalam hidupnya. Ibarat ikan yang keluar dari air lantas menggelepar dan mati. Allah seantiasa memilih hamba-hambaNya yang siap berjuang menegakkan kalimat tauhid. Seorang Ustadz pernah berkata bahwa Allah senantiasa menjadikan dari hamba-hambaNya itu orang-orang yang berjuang dijalanNya dengan harta dan jiwa mereka yang dengan perjuangan itu mereka telah menukarkan hidupnya dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bukan itu saja tetapi mereka akan diberikan kemenangan yang besar. Suatu janji yang tak mungkin diingkari.
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...