Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2014

IBU PALESTINA


Anakku, mataku kini tiada menyisakan cahaya
Hingga lamur karena pekat
Namun masih ada bara manikmu
Menyisakan detak-detak perapian
Berangus sukma-sukma kayu

Anakku, punggungku berbentuk pelangi hanya disanggah pilar rapuh ujung tangan
Serabut-serabut putih tumbuh berlarian kepalaku
Hadir jua teguh sosokmu
Siap rambah padang seribu luka

Anakku, aku telah temaram usia
Tinggal selangkah mengetuk pintu tanah
Bukan menghantar denyut jantung itu yang kuingin
Mengutusmu menyambut rencah 100 peluru yahudi
Seperti menyusun batu bata surgaloka

Anakku mari jadi Ibrahim dan Ismail
Mahkotai raja kita dengan hibat pitih
Sudah sampai suratan
Mengikuti iringan jasad berbau kesturi
Menuju sisi Sang Pencipta

Liebe ENO Shafiiyyah (24.2.03)

(Suara untuk bumi Gaza dari tanah Anging Mammiri)

Jumat, 01 Maret 2013

Serambi Madinah Bertabur Cinta


"Karena kita cinta, mencintai Sang Cinta, mengutamakan Cinta diatas Cinta. Karena Cinta itu kerja aktif bukan pasif. Hanya ada satu cinta, yang terpatri didalam ribuan hati, hingga setiap hati merengkuh hikmahnya masing-masing dalam kesatuan jutaan hikmah. Bersama menabur Cinta pada bumi Serambi Madinah". (Rezky Batari Razak)

Terkadang kita dihantui ketakutan yang berlebihan, merasa tidak mampu, kurang motivasi, atau mungkin pandangan bahwa tidak untuk saat ini..
Tetapi, perjuangan itu sejatinya menguras rasa ketakutan yang berlebihan, mencabik rasa tidak mampu, mengoyak pandangan pesimis..
karena kita yakin ada Allah yang membersamai, selama ikhlas terus terjaga dan ittibaurrasul mengiringi..
maka, teruslah bergerak, bergerak dengan teratur, terukur dan terarah, hingga tak terasa kaki telah berpijak di tempat seharusnya kita beristirahat.
dan itu bukan disini..

#Untukmu Pejuang Cinta yang menjejak bumi serambi Madinah.

Senin, 06 Agustus 2012

Berapa Kali??

Bismillahirrahmanirrahim

Berapa kali kita diciptakan? Sederhananya, berapa kali kita hidup?

Sekali?

Tidak!

Tapi, dua kali.

Kita sedang berada pada kehidupan yang pertama. Kehidupan di dunia ini. Disini, menyaksikan pemandangan yang indah, yang akrab dengan kita sejak bangun hingga terlelap.

Apa saja yang kita saksikan?

Banyak!

Ada mereka yang belajar, ada mereka yang bekerja, ada yang bertransaksi, kendaraan yang berlalu lalang, ada mereka yang berbicara, ada mereka yang tertawa, ada mereka yang tertidur, ada yang makan, ada yang senantiasa sujud, ada yang mentadabburi Al Qur’an, yah.. disini kita hidup, menjalani setiap fase yang telah digariskan kepada kita. Bersama keluarga, sahabat, kawan, suami ataupun isteri, tetangga, kenalan.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(QS. Ali Imran:14)

Senin, 27 Februari 2012

Jawaban Untuk Adi Muliadi


Bismillahirrahmnairrahim

Alhamdulillah wa barakallahu fiek atas kunjungan Adi Muliadi berikut permintaannya dalam kotak komentar Stop Pamer Aurat! Untuk memberi apresiasi yang besar atas permintaannya maka, saya memilih untuk mengulasnya dalam satu tulisan khusus. Hal ini bertujuan agar kotak komentarnya tidak jadi halaman postingan, sekaligus bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Untuk menjawab permintaan tersebut, berikut saya kutip komentarnya…

“saya membutuhkan sebuah pendapat dari anda tentang cara yang cepat agar jilbab bisa dipakai di indonesia terkhusus buat kaum muslimah sehingga jilbab tidak menjadi buah bibir di masyarakat sebagai busana yang kuno
syukran sebelumnya”

Ketika membaca permintaan tersebut maka, saya mendapati bahwa permintaan ini mengandung dua pokok permasalahan. Yang pertama, pertanyaan bagaimana cara cepat agar jilbab bisa digunakan oleh muslimah di Indonesia.

Sabtu, 04 Februari 2012

Agar Bahtera Tidak Tenggelam

Bismillahirrahmanirrahim

Mata saya terus menerus memantau sudah sampai dimana update peserta yang ikut give away Kemilau Cahaya Emas (Hehehe..takut tersaingi..ah ndaklah..soalnya yang lain pada hebat-hebat sih, saya sih lewat..). sejak GA-nya di launchingkan, sang pemilik blog sudah mengabari kalau akan melaksanakan lomba dan hadiahnya adalah buku karangannya ditambah buku lain yang sepadan. Setelah melihat tanggalnya, saya berencana untuk berada pada urutan terakhir dan di detik terakhir sebelum pintu perlombaan menuju seleksi ditutup, sayangnya saya harus segera mengikutinya khawatir saya tidak kebagian tempat soalnya ruangan buat peserta lomba penuh sesak ditambah lagi semuanya duduk di kursi sesuai dengan nomornya. Saya hanya akan membuat sensasi bila duduk di kursi panas yang terakhir. Bayangkan jika semua mata tertuju padamu dan meminta cap jempolmu hehehe... *ngarep.com*

Hhh…maka akhirnya dengan memohon ridho Allah saya menuliskan aksara saya setahap demi setahap ditengah aktivitas saya mempersiapkan materi pelatihan dan seminar di malam ahad awal februari ini.

Dari sekian banyak tulisan di blog Kemilau Cahaya Emas yang semakin menyilaukan namun tetap menjadi lentera itu, saya sempat dihinggapi kebingungan memilih tulisan yang mana yang harus saya jadikan ulasan. Maklum, semua tulisannya bagus sih..(Hehehe..May, ini bukan dalam rangka nyogok pakai pujian yah?!Soalnya, saya kan jarang memuji kalau memang tidak layak dapat pujian. Nanti kalau Maya kelelep di lautan pujian, maka harus ada yang menggenggam erat tangannya agar selamat…*kok rada-rada ndak nyambung yah?Hehehe..tak apalah*

Tapi, ada satu judul yang melayang dan bermain-main di benak saya. Agar Bahtera Tidak Tenggelam (Hatta La Taghriq Assafinah). Alhamdulillah Ahaa..*sambil menjentikkan jari* saya menemukan yang pas. Cukup singkat, tapi pembahasan soal judul diatas bisa berbulan-bulan, bahkan bisa jadi blog ini akan sesak dengan kata-kata.

Senin, 21 November 2011

Stop Pamer Aurat!!

Saya mau berbagi pengalaman dengan mereka yang mengaku dirinya wanita muslimah. Yang mengakui Allah sebagai Ilahnya dan Rasulullah sebagai utusanNya. Juga kepada saudari-saudari saya yang masih ragu dengan janji Allah. Ini semua kumpulan pengalaman pribadi yang saya alami di sepanjang perjalanan menyusuri jalan di kota ini. Sedikit malu juga sebagai wanita. Ceritanya begini, waktu itu saya sedang jalan di depan pusat perbelanjaan di jantung kota Makassar, nah di tepi jalannya berjejer tukang becak yang kadang sedikit maksa untuk ditumpangi. Hmmm…mungkin tuntutan profesi dan asap dapur (hehe..). pas turun dari pete-pete (istilah angkot di Makassar) saya lantas melanjutkan perjalanan dengan kaki, soalnya kalau berhenti lebih depan lagi, khawatir supirnya bisa ditilang.

Cerita punya cerita, dalam perjalanan itu di depan saya juga ada seorang wanita yang berpakaian yang sangat kontras dengan kostum saya sebagai muslimah.

Kamis, 07 April 2011

Cinta?Again!


Again!topik yang bagi saya tak pernah habisnya untuk dibahas oleh siapa saja dan dalam masa yang tak pernah lekang. Cinta…memaknainya tak butuh sederet teori. Memaknainya tak butuh ratusan seminar atau talk show. Karena ia bukan kata sifat atau kata benda. Cinta, amor, love, hubb or aid dan sejumput kata asing lain adalah sebuah kata kerja. Maka memaknai cinta adalah memaknai kerja. Lalu bagaimana dengan proses kerja itu sendiri?. Cinta bekerja dengan awalan men- bukan di-. Mencintai berarti memberi cinta, bukan dicintai yang berarti diberikan cinta. Hidup yang penuh dengan kerja untuk men-cintai, adalah sebuah hidup untuk memaknai hidup.  Sebagian besar bahkan kebanyakan orang lebih berfokus untuk menunggu cinta yang dicintai tanpa berfokus untuk memberi cinta pada yang dicinta. Hm…cinta..

Suatu hari seorang sahabat pernah berkata begini pada saya,

Selasa, 05 April 2011

Jalan itu telah kau pilih, maka susurilah....

Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup bukanlah pillihan mudah, bukan pula jalan yang serupa dengan jalan berhias taman dipinggirannya apalagi serupa jalan tol yang bebas hambatan. Memilih jalan dakwah adalah pilihan besar yang pasti ujungnya adalah jannah-Nya. Seringkali terdengar sebuah keluhan hati dari saudari disekitar kita bahwa mereka lelah dengan jalan yang telah mereka pilih tersebut, yang jika keluhan itu tidak segera di “treatment” berakibat pada mundurnya mereka dari jalan dakwah ini yang secara otomatis menambah lagi para penonton bukan pemain. Jalan dakwah ketika telah dipilih sebagai jalan hidup maka, pada hakikatnya orang-orang yang telah mundur dari jalan tersebut adalah orang yang sedang tidak berada dalam hidupnya. Ibarat ikan yang keluar dari air lantas menggelepar dan mati. Allah seantiasa memilih hamba-hambaNya yang siap berjuang menegakkan kalimat tauhid. Seorang Ustadz pernah berkata bahwa Allah senantiasa menjadikan dari hamba-hambaNya itu orang-orang yang berjuang dijalanNya dengan harta dan jiwa mereka yang dengan perjuangan itu mereka telah menukarkan hidupnya dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bukan itu saja tetapi mereka akan diberikan kemenangan yang besar. Suatu janji yang tak mungkin diingkari.

Jumat, 28 Januari 2011

Meraih kemuliaan disisi Allah

Dalam Al Qur’an Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

“Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat)yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”(QS. Ali Imran:104).

Kata kuntum dalam ayat ini spesifik disampaikan kepada sahabat, bahwa mereka dikatakan sebaik-baik umat akan tetapi juga diberikan keumuman bagi kaum muslimin  yang berdakwah sebab ayat ini mempersyaratkan bahwa sebaik-baik umat adalah mereka yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Kemuliaan yang Allah lekatkan kepada suatu kaum ataupun seseorang bukanlah harga yang murah, setiap kemuliaan tidaklah diperoleh dengan mudah tetapi kemuliaan diperoleh dengan masyaqqah sebab thariqah dakwah memiliki banyak ujian sebagaimana juga Allah telah berfirman dalam Al Qur’an:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan “Kami telah beriman,”dan mereka tidak diuji?”(QS.Al Ankabut:2)

Tidak ada satu pun dalil yang menegaskan bahwa kemuliaan dapat diperoleh dengan predikat-predikat duniawi. Mari kita merenungi bahwa banyak ayat ataupun hadist yang memberikan gambaran bahwa mereka yang mulia antara lain orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya, belajar dan mengajarkan Al Qur’an, serta beriman dan bertakwa. Kemuliaan itu adalah apa yang dinilai mulia oleh Allah.

Jumat, 31 Desember 2010

Mengapa enggan bergabung dalam kafilah dakwah?

“Afwan kak, ana tidak bisa ikut bergabung!”.

Sebuah sms mampir di inbox, pagi yang cerah itu dihentakkan oleh sms seorang akhwat yang kami ajak ikut bergabung dalam kafilah dakwah. Kepala saya sedikit berdenyut membacanya. Empat bulan lalu, sebuah sms yang sama juga saya terima. Sejenak saya merenung, mencoba menggali memori yang tersimpan rapi dalam benak. Ada apa dengan jalan dakwah ini?. Saya harus mengakui jalan dakwah bukan jalan yang mudah, namun agak miris hati saya manakala kalimat tersebut terlontar dengan mudahnya. Tak hanya  itu, setahun lalu saya kembali terngiang dengan percakapan seorang akhwat senior. Ia bertutur tentang seorang akhwat yang juga mundur dari kafilah dakwah dengan alasan yang sampai sekarang saya tak mengerti. Ia enggan melanjutkan perjuangan dengan berkata, masih banyak jalan lain untuk meraih surga Allah. Tidak hanya dengan jalan dakwah katanya. Pertama kali mendengarkan pernyataan itu, saya yang masih minim ilmu-pun membenarkannya. Mencoba mencari justifikasi atas pernyataann tersebut. Yah, betul surga Allah bisa kita peroleh dengan berbagai macam cara. Sedikit pernyataan itu mempengaruhi prinsip saya dalam berdakwah dalam amal  jama’i. tapi, seiring waktu saya kemudian tidak membenarkannya. Sebab, saya menjadi orang yang pertama membenarkan komentar akhwat yang menceritakan kejadian tersebut. Akhwat senior tersebut mengatakan…

“Saya pun harus mengakui dek, pernyataan itu benar adanya dek. Tapi, secara pribadi saya mengatakan insya Allah dengan jalan dakwah inilah yang akan mengantarkan saya menuju surga Allah. Dengan jalan dakwah ini, saya merasa bisa tetap istiqomah. Meskipun sulit, namun hati, pikiran dan  jiwa kita terarah untuk memikirkan tegaknya kalimat Tauhid diatas muka bumi. Meskipun hal tersbut tidak sebanding dengan pengorbanan para shahabat yang mengorbankan harta dan jiwanya. Tapi, Insya Allah saya berazzam untuk itu”. Hmmm…..dua tahun lalu saya masih menganggapnya sebagai sebuah kalimat idealis dari seorang akhwat. Tapi, seiring perjalanan waktu menjadi sebuah hal yang harus dipegang hingga akhir hayat.

Senin, 20 Desember 2010

Kapan Nyusul???(Episode Walimah)

Saya baru saja bangkit dari peraduan di malam yang menanjak sepertiga yang pertama, hari yang cukup padat mengantarkan saya terlelap lebih cepat dari biasanya, tapi dasar tak biasa hanya dua jam mata ini kembali melek. Dan ketika terjaga, saya dikagetkan oleh sms dari salah seorang akhwat.

“Kak, sudah tau ada lagi akhwat yang akan walimah?”. Kembali teringat percakapanku dengan Akhwat Pembina soal akhwat yang akan menggenapkan setengah dinnya itu. Serta merta ku jawab singkat. “Iya”. Tak berselang beberapa detak jam, handphone kembali berdering. *Hm…wah hebohh nih…..*bisik saya dalam hati.

”Kakak taunya akhwat yang itu kan?”.

“Iya dek, siapa lagi. Sudah lama tersiar kabar itu. Kenapa?”

“ wah, akhwat laris manis yah?:-)”*Kali ini lengkap dengan smile lagi..duh dinda bisa saya bayangkan wajah sumringahmu melihat rekan-rekanmu dah menikah.

“Kapan nyusul kak?”*Pertanyaan yang sudah dua bulan ini sering terlontar dari akhwat-akhwat yang lebih muda pada kami yang “sedikit”lebih tua*he he he….enggan sekalian bilang tua ding!


Jumat, 22 Oktober 2010

Anak Bukan Penghalang Dakwah

Puff….badan saya masih terasa lelah setelah beraktivitas seharian, inginnya sih langsung tidur pulas diatas pulau kapuk, merebahkan tubuh dan melepas penat. Tapi, khawatir inspirasi ini kelewat buat dituliskan, maka saya bangkit lagi lantas menekan tombol power laptop, saya lantas melangkahkan kaki menuju dapur, mengambil sebuah gelas keramik putih hadiah ultah kota Makassar yang ke-400 lalu menuang segelas teh hangat dan mengoleskan margarine pada roti tawar dan duduk di depan laptop setelah sebelumnya menekan beberapa tuts keyboard mengetik password sembari menyangkutkan headset dikepala mendengarkan radio melalui hp untuk tau situasi kota saat ini. yah, beginilah gaya saya menggali inspirasi, mengais kata-kata untuk dijejer rapi membentuk sebuah tulisan sederhana tentang hidup. Meskipun sesekali harus tersentak karena nada sms masuk yang memekakkan gendang telinga.

Minggu, 08 Agustus 2010

Kapal Kembali Melaju...

Bismillah..



Kapal kami melaju kembali setelah sejenak menurunkan jangkar disebuah pulau harta karun, terjadi pembagian warisan yang begitu berharga. Di pulau tersebut kami tinggal dua hari satu malam. Subhanallah, betul lah bahwa jika segenap potensi kita kerahkan untuk mencari harta karun maka kita akan mendapatkannya. Kepada seluruh awak kapal yang telah turun dari kapal dan rela menelusuri rimba di pulau tersebut hingga mendapatkan harta karun ku ucapkan Barakallahu fikunna, semoga warisan atau harta karun tersebut dapat menjadi bekal sepanjang perjalanan kita. Adapun yang enggan turun dari kapal karena lelah dalam perjalanan atau kurang tertarik dengan iming-iming harta karun yang dijanjikan semoga tetap bisa merasakan warisan dari saudarinya yang lain, aku secara pribadi akan membagi harta karun tersebut jika kalian meminta. Karena pastinya harta karunku tak akan berkurang dengan memberikannya pada kalian. Sekarang kita akan melanjutkan perjalanan, tarik jangkarnya....Intanshurullaha Yanshurkum...Allahu Akbar..Tariiiiiikk.....Kembangkan layar...kembali ke posisi masing-masing. Dan kepada seluruh Kepala Kabin, ku harapkan tetaplah tegar berdiri. Kita adalah satu TIM baik di dunia terlebih lagi di akhirat. Uhubbukum Fillah.

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...