Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan sebagai tentor lagi tapi teman se-ma’had dan se-kantor. Meski begitu, saya masihlah si kakak, dan dia masih si adik. Kami bukan saudara kandung. Boro-boro. Dia tinggi, saya tingginya gak amat-amat. Dia tirus, saya bulat meski sama-sama tak layak disebut berat ideal. Hujan, saya memberinya nama itu. Nama yang menurut saya terpaksa saya beri karena untuk memberinya nama bunga, saya tak sanggup. Saya tak sanggup kalau dia jadi bunga yang diinjak-injak sapi atau sejenisnya. Hahaha.. Peace.. Memberinya nama pelangi, dia Cuma muncul sesekali, baiklah kamu hujan saja yah dik. Simpul saya malam itu. Dan dia pun bersorak.
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...
