Senin, 27 Februari 2012

Jawaban Untuk Adi Muliadi


Bismillahirrahmnairrahim

Alhamdulillah wa barakallahu fiek atas kunjungan Adi Muliadi berikut permintaannya dalam kotak komentar Stop Pamer Aurat! Untuk memberi apresiasi yang besar atas permintaannya maka, saya memilih untuk mengulasnya dalam satu tulisan khusus. Hal ini bertujuan agar kotak komentarnya tidak jadi halaman postingan, sekaligus bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Untuk menjawab permintaan tersebut, berikut saya kutip komentarnya…

“saya membutuhkan sebuah pendapat dari anda tentang cara yang cepat agar jilbab bisa dipakai di indonesia terkhusus buat kaum muslimah sehingga jilbab tidak menjadi buah bibir di masyarakat sebagai busana yang kuno
syukran sebelumnya”

Ketika membaca permintaan tersebut maka, saya mendapati bahwa permintaan ini mengandung dua pokok permasalahan. Yang pertama, pertanyaan bagaimana cara cepat agar jilbab bisa digunakan oleh muslimah di Indonesia.

Rabu, 08 Februari 2012

Saya Memanggilnya May...

Bismillahirrahmanirrahim

Saya mengenalnya dengan dakwah sebagai latarnya. Pertemuan bulanan yang kerap kali kami adakan untuk saling berkonsolidasi. Satu atau bahkan dua kali sebulan. Selebihnya kami hampir tidak pernah banyak terhubung bahkan kalau boleh jujur semua sebatas formil spirituil. Selain karena kesibukan masing-masing, lebih tepatnya tak banyak waktu untuk saling berbagi cerita. Sampai akhirnya takdir Allah sedikit demi sedikit mengubah keadaan itu. Beberapa bulan sejak diberi amanah mendampingi Maya, saya terkadang dihinggapi tanda tanya. Apa pasalnya? Sebab ia hampir tidak pernah membalas sms atau mengangkat telpon saya. Ketika melewati rumahnya yang tepat bersebelahan dengan lokasi wisata hisbah pun, saya hanya bisa menatap dari kejauhan dan bergumam lirih “Munginkah Ia ada dirumah di siang hari sibuk seperti ini?” dan saya membiarkan tukang becak mengayuh becak tanpa menahannya berhenti sejenak didepan rumah Maya. Sempat ragu, bingung dan khawatir bercampur menjadi satu adonan yang entah akan berbentuk apa jadinya jika keadaan terus seperti ini padahal ia adalah tim work saya.

Sabtu, 04 Februari 2012

Agar Bahtera Tidak Tenggelam

Bismillahirrahmanirrahim

Mata saya terus menerus memantau sudah sampai dimana update peserta yang ikut give away Kemilau Cahaya Emas (Hehehe..takut tersaingi..ah ndaklah..soalnya yang lain pada hebat-hebat sih, saya sih lewat..). sejak GA-nya di launchingkan, sang pemilik blog sudah mengabari kalau akan melaksanakan lomba dan hadiahnya adalah buku karangannya ditambah buku lain yang sepadan. Setelah melihat tanggalnya, saya berencana untuk berada pada urutan terakhir dan di detik terakhir sebelum pintu perlombaan menuju seleksi ditutup, sayangnya saya harus segera mengikutinya khawatir saya tidak kebagian tempat soalnya ruangan buat peserta lomba penuh sesak ditambah lagi semuanya duduk di kursi sesuai dengan nomornya. Saya hanya akan membuat sensasi bila duduk di kursi panas yang terakhir. Bayangkan jika semua mata tertuju padamu dan meminta cap jempolmu hehehe... *ngarep.com*

Hhh…maka akhirnya dengan memohon ridho Allah saya menuliskan aksara saya setahap demi setahap ditengah aktivitas saya mempersiapkan materi pelatihan dan seminar di malam ahad awal februari ini.

Dari sekian banyak tulisan di blog Kemilau Cahaya Emas yang semakin menyilaukan namun tetap menjadi lentera itu, saya sempat dihinggapi kebingungan memilih tulisan yang mana yang harus saya jadikan ulasan. Maklum, semua tulisannya bagus sih..(Hehehe..May, ini bukan dalam rangka nyogok pakai pujian yah?!Soalnya, saya kan jarang memuji kalau memang tidak layak dapat pujian. Nanti kalau Maya kelelep di lautan pujian, maka harus ada yang menggenggam erat tangannya agar selamat…*kok rada-rada ndak nyambung yah?Hehehe..tak apalah*

Tapi, ada satu judul yang melayang dan bermain-main di benak saya. Agar Bahtera Tidak Tenggelam (Hatta La Taghriq Assafinah). Alhamdulillah Ahaa..*sambil menjentikkan jari* saya menemukan yang pas. Cukup singkat, tapi pembahasan soal judul diatas bisa berbulan-bulan, bahkan bisa jadi blog ini akan sesak dengan kata-kata.

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...