Kamis, 24 Maret 2011
Ada Cinta di KKN
Genap 2 bulan saya ditugaskan di lokasi KKN, sebuah desa terpencil disalah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Diawal perjalanan masih terngiang setiap kalimat nasehat akhwat agar terus istiqomah, betapa hati ini terus bersyukur diberikan saudara yang selalu mengingatkan. Mulai dari nasehat buku apa yang harus dibawa untuk bekal dakwah, cara bergaul dengan teman seposko yang lawan jenis, jangan sampai putus kontak sampai yang paling ekstrim hati-hati dengan cinlok alias cinta lokasi. Cinta yang banyak melanda mahasiswa yang sedang dalam tugas mengabdi pada masyarakat. Cinta yang katanya membuat masa-masa KKN yang panjang menjadi lebih indah dan menyenangkan. Akankah saya bisa bertahan??Jauh dari saudari-saudari seperjuangan, jauh dari halaqah tarbiyah, jauh dari kesibukan yang menyita sebagian besar waktu saya saat berada di Makassar..Ya Rabbi..Akankah??Akankah saya bisa bertahan ditengah-tengah pergolakan batin yang menyeruak tajam saat syari’at Allah dilanggar dihadapan mata lantas saya hanya bisa menegur dalam gumam yang tak terdengar…
Selasa, 15 Maret 2011
Menuju Amanagappa (Proposal)
Mengerjakan proposal betul-betul menguras energi, bagaimana tidak?. Terkadang karena keasyikannya saya mengerjakannya hingga waktu berlalu dengan cepat menunjukkan setengah 2 pagi. Hal itu berlanjut selama sepekan. Saya akhirnya tumbang di akhir pekan, karena selain mengerjakan proposal, akhir pekan yang bagi kebanyakan orang adalah pekan rehat justru terbalik bagi saya, tak ada kata istirahat di kamus saya, wajar saja akhwat sempat bilang kok pipi saya agak kempis (kelihatan kurus maksudnya, yah…emang ndak pernah gemuk Ukhti..). Saya tumbang, drop selama tiga hari. Semuanya terjadi di akhir pekan, dan agenda yang tertunda ada 6 agenda. Banyak pihak yang dirugikan. Tapi, saya bahagia. Nah lho….karena perhatian selama saya sakit mengalir dari banyak orang terkasih. Mereka sempat ngomel, katanya saya pasti jarang makan. (Iya sih…tapi, saya bilang saya rajin kok) Tapi, setelah menatap wajah saya dicermin…memang saya Nampak kusam (Mau dicuci pake deterjen kali mukanya..he..he..). Mungkin Karena begadang ditambah sakit yang mendera. Mengerjakan proposal penelitian ini menuju Amanagappa bukan pekerjaan yang mudah, tapi saya tak habis pikir. Kok bisa yah, serumit ini? Karena saya melihat teman-teman saya begitu mudahnya mengerjakan proposal mereka. Saya tidak ingin mengatakan diri saya lalo alias telat loading. Tapi jujur, setiap kali saya ingin maju konsultasi, maka saya langsung mundur mengecek kembali pekerjaaan saya, takut banyak kata yang salah yang tidak sesuai EYD ditambah lagi teman-teman yang selalu mengingatkan agar pengerjaan proposal harus sesuai dengan buku pedoman penyusunan skripsi. Saya harus bekerja perfect, tidak asal-asalan, meskipun saya tau saya tergolong orang yang lambat selesai (dah kelewat waktunya maksudnya, hampir lima tahun..Gubrak!). Tapi, it doesn’t matter. Dalam hal dunia kita harus lihat orang yang ada dibawah kita, kebalikannya untuk akhirat. Hadist ini sebagai salah satu motivator bagi saya, lagian juga beasiswa sudah cukup mnjadi andalan untuk membiayai segala kebutuhan akademik. Saya tidak mau jadi sarjana ecek-ecek. Saya ingin membawa penelitian ini di masyarakat, saya ingin instrumen penelitian saya bisa dipakai oleh banyak orang. Saya ingin dan ingin (Cita-cita jangan sampai bikin kamu jatuh Q!berusaha menasehati diri sendiri). Alhamdulillah, Allah memberikan pembimbing yang sangat baik, perhatian dan tau kapasitas saya, malahan saya diminta nambah variabel penelitian biar lebih biologi katanya. Jadilah, tiga rumusan masalah. Yah lumayan, nambah satu. Meskipun nambah satu tapi sebenarnya dua yang lain berubah total alias nambah masalah baru (Penelitian mah emang nyari-nyari masalah he…he..)
Jumat, 04 Maret 2011
Sepatu (part two)
Hm…kali ini, sepatu itu kembali berkisah. Setelah direkatkan menggunakan lem yang paling bagus (katanya), sepatu saya yang hampir ngakak itu pun mingkem. Tapi, sayang seribu sayang hujan yang mengguyur kota Makassar sekian hari ditambah dengan jalanan yang becek berhasil membobol pertahanan lem yang katanya “kuat” itu. Kalau begini terus, bisa-bisa saya harus beli sepatu baru padahal kocek lagi tipis-tipisnya. Menunggu sepatu pesanan dari cibaduyut pun bukan solusi terbaik untuk saat ini. Akhirnya saya memutuskan menjahitnya. Berbekal jarum jahit khusus sepatu dan tasi yang memang sudah disediakan Ibu bila sewaktu-waktu sepatu atau sandal yang beliau punya mengalami kasus yang sama, saya pun menjahitnya. Sungguh luar biasa, menusukkan jarum hingga menembus alas dalam dan alas luar butuh tenaga yang ekstra, ditambah lagi harus mengikatkan tasi dari dua arah yang sama. Tak terbayangkan bagaimana dengan para penjahit sepatu yang duduk dipinggir jalan yang mungkin saja setiap hari bagi mereka sangatlah untung jika ada satu saja orang yang mau menjahit sepatunya. Sebab, harga sepatu yang saat ini murah (tapi mudah rusak) bak jamur dimusim hujan dijajakan dipasar-pasar semakin mebuat orang berfikir lebih baik untuk membeli daripada menjahitnya. Tangan saya sampai merah dibuatnya. Meskipun, ibu saya sempat menilai kalau hasil jahitan saya jelek sebab jarak jahitannya tidak sama(he..maklumlah amatiran) Itu pun jahitannya tidak untuk seluruh alasnya, saya hanya menjahit bagian yang kemungkinan akan tertawa ngakak jika saya tidak berhati-hati. Alhamdulillah, saya jadi lebih pede setelah berhasil membuat bibirnya terkulum.
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...