Tampilkan postingan dengan label sepatu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepatu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2011

Sepatu (part two)

Hm…kali ini, sepatu itu kembali berkisah. Setelah direkatkan menggunakan lem yang paling bagus (katanya), sepatu saya yang hampir ngakak itu pun mingkem. Tapi, sayang seribu sayang hujan yang mengguyur kota Makassar sekian hari ditambah dengan jalanan yang becek berhasil membobol pertahanan lem yang katanya “kuat” itu. Kalau begini terus, bisa-bisa saya harus beli sepatu baru padahal kocek lagi tipis-tipisnya. Menunggu sepatu pesanan dari cibaduyut pun bukan solusi terbaik untuk saat ini. Akhirnya saya memutuskan menjahitnya. Berbekal jarum jahit khusus sepatu dan tasi yang memang sudah disediakan Ibu bila sewaktu-waktu sepatu atau sandal yang beliau punya mengalami kasus yang sama, saya pun menjahitnya. Sungguh luar biasa, menusukkan jarum hingga menembus alas dalam dan alas luar butuh tenaga yang ekstra, ditambah lagi harus mengikatkan tasi dari dua arah yang sama. Tak terbayangkan bagaimana dengan para penjahit sepatu yang duduk dipinggir jalan yang mungkin saja setiap hari bagi mereka sangatlah untung jika ada satu saja orang yang mau menjahit sepatunya. Sebab, harga sepatu yang saat ini murah (tapi mudah rusak) bak jamur dimusim hujan dijajakan dipasar-pasar semakin mebuat orang berfikir lebih baik untuk membeli daripada menjahitnya. Tangan saya sampai merah dibuatnya. Meskipun, ibu saya sempat menilai kalau hasil jahitan saya jelek sebab jarak jahitannya tidak sama(he..maklumlah amatiran) Itu pun jahitannya tidak untuk seluruh alasnya, saya hanya menjahit bagian yang kemungkinan akan tertawa ngakak jika saya tidak berhati-hati. Alhamdulillah, saya jadi lebih pede setelah berhasil membuat bibirnya terkulum.

Senin, 28 Februari 2011

Sepatu

Sore mengantarkan malam sebelum bertugas dengannya, ada segores awan putih yang tersketsa dilangit, nampak bawakaraeng tersapu sinar mentari yang sebentar lagi menuju peraduan, diikuti oleh wajah kelelahan orang-orang diatas kendaraan menuju gubuk  masing-masing..saya baru saja pulang dari wisata hisbah yang rutin saya jalankan Insya Allah, kaki saya melangkah perlahan mencoba menikmati rambahan sinar mentari yang mulai menurun kegarangannya hari ini. . menapaki sudut jalan jantung kota Makassar.

Setiap beraktivitas diluar rumah saya sering menggunakan sepatu (Kalau telanjang kaki, ntar disangka gembel Q He....) Karena kebiasaan ini sampai-sampai akhawaat baru sadar, kalau mereka tidak pernah melihat saya memakai sandal sepatu atau sandal dihadapan mereka. Alasan saya cukup sederhana, dengan sepatu kaki saya lebih terasa terlindungi dan mudah melangkah tanpa khawatir sepatu itu akan terlempar jika saya terlalu bersemangat berjalan…(Pengen nendang bola mungkin....)

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...