Sabtu, 12 November 2011

Untuk Anak Indonesia

Bayangkan jika setiap putra putri bangsa membangun negeri ini dengan potensinya masing-masing. Tidak ada yang merasa tinggi atau rendah dengan apa yang mereka dedikasikan untuk tanah air tercinta. Saya selalu membayangkan wajah siswa yang bersemangat, tanpa beban dan bergairah menghadapi setiap fase pembelajaran yang mereka geluti. Acungan tangan, mata yang berbinar, punggung yang senantiasa tegak kala informasi baru mengusik rasa penasaran mereka. Sebuah masa yang tak akan pernah tergantikan.

Anak-anak Indonesia adalah anak-anak yang cerdas luar biasa. Itu harapan yang tak boleh pupus dari seorang pendidik. Pandangan siswa saat belajar berawal dari pandangan guru terhadap mereka. Setiap anak adalah istimewa. Mereka terlahir dengan membawa blue print masing-masing dari Sang Pencipta.
Blue print itu akan saling menggenapi satu sama lain *semestinya* jika selama proses pertumbuhan dan belajar sang anak tidak “dimatikan” potensinya atau “dibunuh” minatnya oleh ke-egoisan orang tua dan guru yang memaksa mereka untuk melakukan ini dan itu sesuai dengan ambisinya. Setiap anak harus menjadi apa yang telah digariskan Allah terhadap mereka. Kecerdasan adalah paket utuh yang disertakan dalam proses penciptaan. Tentu maksud saya bukan sekedar kecerdasan matematis yang seringkali kita anggap sebagai sebuah standarisasi kecerdasan. Misalnya saja sering kita temui kebanggaan orang tua saat sang anak mendapat nilai matematika di rapor anak tertulis angka 9. Nilai itu akan dipamer sedemikian rupa. Tetapi, jika nilai matematika sang anak anjlok seolah-olah itu merupakan akhir dari dunia, bahkan saya sangat tidak setuju ketika ada istilah rapor kebakaran.

Entah mengapa angka 5 di rapor selalu diberi tanda warna merah. Sebuah label yang menghacurkan harga diri anak. Mungkin pula ini hal yang kita alami dahulu. Di kejadian lain saat pembagian hasil ujian di kelas adalah saat-saat penghancuran luar biasa bagi perkembangan harga diri mereka. Sebuah sistem yang telah mengakar di negeri ini. Kasus-kasus seperti ini semestinya menjadi perhatian khusus bagi kita sebagai pendidik. Jika terbukti sistem yang telah mendarah daging ini sebagai sebabnya, maka kita harus dengan berani melakukan perubahan untuk anak-anak kita.

Oh..anak Indonesia, masa depan bangsa ada di tangan mereka. Jangan biarkan mereka memiliki harga diri bak kacang goreng. Ayo bangkit dan lakukan perubahan. Mulailah dengan pandangan yang utuh bahwa manusia adalah makhluk dengan penciptaan yang paling baik. Semoga semakin banyak guru yang berani melakukan perubahan di kelas mereka. Be a Great and Genius Teacher!

Sebuah refleksi dari penelitian saya untuk mereka yang meragukannya….

6 komentar:

  1. setuju saudaraku... nice info.. coba orang2 indonesia berpikiran kaya gini juga..

    BalasHapus
  2. ayo siapa lagi yang mau ikut berbaris mendukung pendidikan berkarakter untuk anak Indonesia??

    BalasHapus
  3. sapa kak yang ragukan penelitian ta?
    Ya Allah...

    keep on fighting till the end!

    BalasHapus
  4. Ada deh...

    doakan yah, ndak bisa sama seperti dek Maya yg slsai 3 tahun 3 bulan..
    soalnya pnelitiannya bukan antena Hahahaha....
    semua ada hikmahnya...

    BalasHapus
  5. InsyaAllah kak Rezky bisa!!

    mdede, (--_--) ka saya benda mati kak, kita benda hidup..

    BalasHapus
  6. na'am begitulah, dah mulai jalan nih..doakan yah!

    BalasHapus

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...