Bismillah..
Kapal kami melaju kembali setelah sejenak menurunkan jangkar disebuah pulau harta karun, terjadi pembagian warisan yang begitu berharga. Di pulau tersebut kami tinggal dua hari satu malam. Subhanallah, betul lah bahwa jika segenap potensi kita kerahkan untuk mencari harta karun maka kita akan mendapatkannya. Kepada seluruh awak kapal yang telah turun dari kapal dan rela menelusuri rimba di pulau tersebut hingga mendapatkan harta karun ku ucapkan Barakallahu fikunna, semoga warisan atau harta karun tersebut dapat menjadi bekal sepanjang perjalanan kita. Adapun yang enggan turun dari kapal karena lelah dalam perjalanan atau kurang tertarik dengan iming-iming harta karun yang dijanjikan semoga tetap bisa merasakan warisan dari saudarinya yang lain, aku secara pribadi akan membagi harta karun tersebut jika kalian meminta. Karena pastinya harta karunku tak akan berkurang dengan memberikannya pada kalian. Sekarang kita akan melanjutkan perjalanan, tarik jangkarnya....Intanshurullaha Yanshurkum...Allahu Akbar..Tariiiiiikk.....Kembangkan layar...kembali ke posisi masing-masing. Dan kepada seluruh Kepala Kabin, ku harapkan tetaplah tegar berdiri. Kita adalah satu TIM baik di dunia terlebih lagi di akhirat. Uhubbukum Fillah.
Minggu, 08 Agustus 2010
Senin, 10 Mei 2010
Fragmen untuk Huda
Fase yang berbeda telah engkau pilih
Menentang arus yang tak bersahabat
Tak ku lihat redup semangat tuk mengayuh dayung bajamu
Masih ada asa yang kau tuang dalam cawan hatimu
Bahwa esok kelak kau akan sampai pada pelabuhan yang kau tuju
Fase yang berbeda telah kau pahat
Kau ukir menjadi sebuah prasasti perubahan
Menentang arus yang tak bersahabat
Tak ku lihat redup semangat tuk mengayuh dayung bajamu
Masih ada asa yang kau tuang dalam cawan hatimu
Bahwa esok kelak kau akan sampai pada pelabuhan yang kau tuju
Fase yang berbeda telah kau pahat
Kau ukir menjadi sebuah prasasti perubahan
Selasa, 16 Maret 2010
Cinta
Ku tepis cinta bukan karena ia dosa
namun ia telah salah memilih posisi dan waktu
Cinta ku tepis bukan karena ia nista,
hanya saja cinta terlihat begitu indah hingga melupakan dan melenakan
Cinta itu ku tepis bukan dengan logika, amarah atau deraian air mata
Tapi ia ditepis dengan doa kepada Sang Empunya cinta
Dan sungguh, cinta hanya indah manakala mekar pada waktunya.
(Rezky Batari Razak~Guru Ngaji Kampung)
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...