Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup bukanlah pillihan mudah, bukan pula jalan yang serupa dengan jalan berhias taman dipinggirannya apalagi serupa jalan tol yang bebas hambatan. Memilih jalan dakwah adalah pilihan besar yang pasti ujungnya adalah jannah-Nya. Seringkali terdengar sebuah keluhan hati dari saudari disekitar kita bahwa mereka lelah dengan jalan yang telah mereka pilih tersebut, yang jika keluhan itu tidak segera di “treatment” berakibat pada mundurnya mereka dari jalan dakwah ini yang secara otomatis menambah lagi para penonton bukan pemain. Jalan dakwah ketika telah dipilih sebagai jalan hidup maka, pada hakikatnya orang-orang yang telah mundur dari jalan tersebut adalah orang yang sedang tidak berada dalam hidupnya. Ibarat ikan yang keluar dari air lantas menggelepar dan mati. Allah seantiasa memilih hamba-hambaNya yang siap berjuang menegakkan kalimat tauhid. Seorang Ustadz pernah berkata bahwa Allah senantiasa menjadikan dari hamba-hambaNya itu orang-orang yang berjuang dijalanNya dengan harta dan jiwa mereka yang dengan perjuangan itu mereka telah menukarkan hidupnya dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bukan itu saja tetapi mereka akan diberikan kemenangan yang besar. Suatu janji yang tak mungkin diingkari.
Menyusuri jalan dakwah hingga nafas tersisa satu desahan membuat kita yakin bahwa setiap penolong agama Allah akan ditolong juga. Saudariku, mari sejenak renungkan bahwa jalan yang telah kau pilih beberapa tahun yang lalu itu telah kau perjuangkan dengan sedemikian rupa, melawan arus deras penolakan keluarga, menangkis sejuta cibiran dan pandangan aneh terhadapmu yang bekerja tanpa gaji berupa uang. Yang keluar di pagi hari lantas kembali kala surya menjelang hendak berputar disisi lain dunia ini. Nampak sibuk selayaknya eksekutif namun, justru tak satupun pundi kekayaan yang engkau dapatkan. Terlihat asing ditengah keterasingan, bangun di saat lambung-lambung manusia banyak yang beristirahat sedang engkau menemui Ar Rahman memohon hidayah dan petunjuk untuk manusia disekitarmu, apakah itu semua akan engkau tukarkan demi sebuah predikat keduniawian yang disisi Allah nilainya tak lebih dari selembar sayap nyamuk. Ataukah mungkin engkau tak ingin meninggalkannya tetapi hendak mengurangi intensitasnya?lalu serupa apakah diri kita dengan prinsip demikian?. Tidak kita melihat bahwa safaussalih telah menukarkan hidup mereka dengan perjuangan, lihatlah kata “menukarkan”, pantaskah barang yang telah kita tukarkan lantas kita memintanya kembali?. Waraqah bin Naufal pernah berkata pada Rasulullah bahwa siapapun yang menempuh jalan serupa beliau yaitu jalan dakwah maka, sungguh mereka akan banyak disakiti oleh manusia. Lalu apalah makna kesakitan itu bila dibandingkan dengan nikmat surga yang dijanjikan kelak dan janji kemenangan yang tak mungkin diingkari oleh Allah?. Wahai para pejuang dakwah yang saat ini sedang mengalami keterpurukan “sesaat” dan semoga memang hanya sesaat, bangkitlah dan susurilah kembali perjalanan panjang ini. Perjalanan orang-orang terpilih..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...
jadi ingat perkataan sang ustadz setiap kumpul. kita adalah pemain bukan penonton... maka ketika kita terpilih menjadi pemain pengganti sekalipun.. bersiap-siagalah... siapa tahu kita akan segera menggantikan mereka yang terluka dan jatuh.....
BalasHapusdan jangan bersedih jika kita telah di bangkucadangkan, karena kita tidak mengusahakan faktor-faktor agar kesempatan itu tetap tinggal...
BalasHapusTUlisan yg mengingatx.! Tidak ada kata berhenti u/jLN dakwah. Karena jika kita, teruTAMA sy_ meningGLkanx mk sy akan Mati. Hiduplah sbgaimana hidupx mush'aB bin umair, abu dzar al ghifari, dn pR Pejuang lainx.. Mereka tak pernah mati. Mereka hidup dan mengHidupx... DAKWAH, KAMI "HIDUP" KARENAMU..
BalasHapusBismillah
BalasHapusAssalamu'alaikum
K ana rindu dengan nasehat-naehat kita.
Ana bersyukur dengan membuka blog kita ana dapat manfaat
ana minta didoakan
smoga Allah senantiasa menjaga persaudaraan kita hingga berlabuh kembali di srga Allah Ta'ala
Satu harapan yang tak bernah berujung,sng Allah mengizinkan kt istiqamah dijalan Dakwah n Din ini
Aamiin
Ana Sayang kita karena Allah
UHIBBUKIFILLAH
Ahabbakilladzi ahbab taniilahu
BalasHapusSyukran dinda..
kita saling mendoakan yah..:)
Assalammualaikum Warahmatulah Wabarakatu
BalasHapusAfwan akhi.. ana izin share ke teman-teman yang lain
agar teman2 seperjuangan bisa termotivasi dgn artikel antum ini :^_^
JazakhAllah Khair
Wa'alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh
BalasHapusAduh..saya nih Akhawaat
silahkan di share kalo bermanfaat
fa anta jazaakallah
MasyaAllah... membuat air mataku menetes membaca artikel tersebut. melihat keterpurukanku saat ini, Alhamdulillah jadi semangat lagi untuk berdakwah. semoga Allah memudahkan langkahku dan langkah kita semua dalam menuju kebaikan.amin
BalasHapuswaduh.... akhi? salah tuh neng? tp akhwat
BalasHapushehehehehehe
Insya Allah adik...
BalasHapussesuatu yang besar pahalanya itu selalu bertentangn dengan hawa nafsu kita.
iyah.. dikiranya kakakta ini laki2.. :-D
BalasHapus