Selasa, 26 Desember 2017

Para Penjaga Wahyu

Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya masih berstatus santri tahfidz yang tertatih menyetorkan hafalan dan memuroja'ahnya, sisanya hanya kemampuan manajemen kantor yang ala kadarnya dan jauh dari standar, dalam pada itu saya sadar sesadar-sadarnya bahwa ada alasan kehadiran saya di tempat para penjaga wahyu ini, yaitu alasan untuk senantiasa berbenah diri dan terus beramal karena amalan saya masih begitu minim. 

Setahun lebih sang Penentu Takdir menuliskan keberadaan saya di Markaz Imam Malik. Dulu sekali, saat saya baru saja melepas status mahasiswa dan menikmati masa tenggang meski tak dituntut untuk kerja secepatnya membuat saya punya waktu untuk merenung kemudian memilih menjadi apa. Anyway, sejak SMA saya sudah punya garis tegas visi misi hidup, sekolah setinggi mungkin dan jadi "orang" di mata orang-orang. Beraktivitas sebagai aktivis dakwah tak menghalangi itu, justru saya semakin menjadi-jadi. Belajar adalah kebutuhan, buku adalah kewajiban maka lanjut pendidikan megister sudah kudu bin wajib. Oke, tapi jangan nyusahin bapak sama mama yah. Yupp, maka rajinlah saya berburu beasiswa. Browsing, searching, saving saya jabanin. Berusaha menyelesaikan setiap petunjuk sang empu beasiswa lewat situs web. Berkas sudah 70% lengkap, tapi waktu masih panjang.

Rabu, 11 Mei 2016

Anak Kecil yang kuberi nama Hujan

Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi,  tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan sebagai tentor lagi tapi teman se-ma’had dan se-kantor. Meski begitu, saya masihlah si kakak, dan dia masih si adik. Kami bukan saudara kandung. Boro-boro. Dia tinggi, saya tingginya gak amat-amat. Dia tirus, saya bulat meski sama-sama tak layak disebut berat ideal. Hujan, saya memberinya nama itu. Nama yang menurut saya terpaksa saya beri karena untuk memberinya nama bunga, saya tak sanggup. Saya tak sanggup kalau dia jadi bunga yang diinjak-injak sapi atau sejenisnya. Hahaha.. Peace.. Memberinya nama pelangi, dia Cuma muncul sesekali, baiklah kamu hujan saja yah dik. Simpul saya malam itu. Dan dia pun bersorak.

Minggu, 19 Oktober 2014

Jadilah Pemenang Sejati



Keindahan sesungguhnya dalam sebuah perjuangan bukan pada hasilnya. Tapi kenikmatan-kenikmatan yang timbul dari proses perjuangan tadi (Pepatah Bijak)

Hari-hari terasa begitu berat dilalui saat pendengaran senantiasa dibanjiri oleh jutaan kata dari mereka yang dicinta. Mereka orang tua kita. Dari rahimnya kita lahir, dari tangannya kita merasakan hangat saat jutaan anak diluar sana ringkih dengan angin, hujan dan terik tanpa penghalang menerobos kulit dan tulangnya. Kita bersuka cita. Dalam suka cita, masa-masa berlalu. Kita mulai memahami arti hidup yang sebenarnya melalui kalamNya dan jejak NabiNya meski dengan mengeja dan terbata-bata. Kita memaknai hidup ini sesederhana angin yang menyapa awan hingga hujan hadir. Kita menyelami hidup sesederhana bahwa hidup adalah hadiahindah yang tak boleh tersiakan oleh sebatas cita dan gelar duniawi. Kita mulai penuh kesadaran, bahwa ada masa saat kita harus bertanggung jawab pada semua karunia itu dan kita menyebutnya hidayah.

Kamis, 10 Juli 2014

IBU PALESTINA


Anakku, mataku kini tiada menyisakan cahaya
Hingga lamur karena pekat
Namun masih ada bara manikmu
Menyisakan detak-detak perapian
Berangus sukma-sukma kayu

Anakku, punggungku berbentuk pelangi hanya disanggah pilar rapuh ujung tangan
Serabut-serabut putih tumbuh berlarian kepalaku
Hadir jua teguh sosokmu
Siap rambah padang seribu luka

Anakku, aku telah temaram usia
Tinggal selangkah mengetuk pintu tanah
Bukan menghantar denyut jantung itu yang kuingin
Mengutusmu menyambut rencah 100 peluru yahudi
Seperti menyusun batu bata surgaloka

Anakku mari jadi Ibrahim dan Ismail
Mahkotai raja kita dengan hibat pitih
Sudah sampai suratan
Mengikuti iringan jasad berbau kesturi
Menuju sisi Sang Pencipta

Liebe ENO Shafiiyyah (24.2.03)

(Suara untuk bumi Gaza dari tanah Anging Mammiri)

Rabu, 04 Desember 2013

Pakaian Takwa

Apa sikap mereka wanita terbaik sepanjang zaman ketika wahyu yang menyinggung busana mereka dibacakan? tanpa berfikir perhatikanlah mereka yang seketika itu pula mereka mencari celah bumi untuk bersembunyi melindungi diri dari pandangan manusia, menarik apa saja yang berada disekitarnya untuk segera merealisasikan titah langit yang agung itu. Tak ada komentar berlebihan, keluh ataupun kesah. Hanya sami’na wa atha’na. Kepatuhan sesegera gelombang suara menyentuh gendang telinga milik mereka.

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...