Minggu, 19 Oktober 2014

Jadilah Pemenang Sejati



Keindahan sesungguhnya dalam sebuah perjuangan bukan pada hasilnya. Tapi kenikmatan-kenikmatan yang timbul dari proses perjuangan tadi (Pepatah Bijak)

Hari-hari terasa begitu berat dilalui saat pendengaran senantiasa dibanjiri oleh jutaan kata dari mereka yang dicinta. Mereka orang tua kita. Dari rahimnya kita lahir, dari tangannya kita merasakan hangat saat jutaan anak diluar sana ringkih dengan angin, hujan dan terik tanpa penghalang menerobos kulit dan tulangnya. Kita bersuka cita. Dalam suka cita, masa-masa berlalu. Kita mulai memahami arti hidup yang sebenarnya melalui kalamNya dan jejak NabiNya meski dengan mengeja dan terbata-bata. Kita memaknai hidup ini sesederhana angin yang menyapa awan hingga hujan hadir. Kita menyelami hidup sesederhana bahwa hidup adalah hadiahindah yang tak boleh tersiakan oleh sebatas cita dan gelar duniawi. Kita mulai penuh kesadaran, bahwa ada masa saat kita harus bertanggung jawab pada semua karunia itu dan kita menyebutnya hidayah.
Namun, makna hidayah itu ada kalanya bertabrakan dengan makna hidup mereka yang kita cinta. Saat berseberangan itulah menjadi saat yang paling menyayat hati. Tuduhan-tuduhan bahwa kita egois, sesat, durhaka, berlebihan, teroris atau apapun itu seakan telah mengakhiri seluruh perjalanan panjang suka cita bersama mereka sejak kecil. Seketika kita terkesiap, kita terlihat mencolok bagi mereka yang kita cinta. Seketika kita rapuh dan mulai meragu pada jalan hidup yang kita pilih. Sejenak kita bersimpulan bahwa perjalanan dakwah kita semakin panjang saja. Timbul tanya yang berulang disertai bisikan pada dada kita benarkah kita telah durhaka, kita telah melukai hati mereka yang kita cinta atas pilihan hidayah ini. Yah.. kita akhirnya tersudut dengan penilaian manusia dan fikiran-fikiran kita sendiri.
Tapi.. pilihan hidup sebagai pejuang telah kita junjung tinggi-tinggi. Sejatinya kita tak pernah durhaka pada mereka, sejatinya kita tidak egois, kita menjadi anak yang paling berbakti bahkan menjadi anak yang paling peduli. Mengapa demikian? Karena kita telah meringankan beban tanya untuk mereka pada hari tidak berguna lagi harta dan pembelaan diri. Hari dimana orangtua akan berlari dari anaknya, sahabat akan saling berlari menjauh, enggan menjawab disebabkan guncangannya yang begitu dahsyat.
Kita butuh berbekal sabar. Karena sabar adalah pakaian para pejuang sejati. Kita butuh sabar dengan menebalkan hati hari demi hari, agar luka sayatan tak lagi terasa. Yang dirasa hanya siraman iman dan hidayah yang membanjiri hati. Bersabarlah melalui hari-hari panjang dan melelahkan. Bila hati telah merindui syurga, bila hati telah bercita pada ridhaNya maka kita tak sendiri. Bersama menjejak dalam rengkuhan kesejatian cinta kita pada Rabb kita, Nabi kita, agama kita dan juga mereka yang kita cintai. Untukmu duhai Ayah dan Bunda kami, jika kami pernah bersalah menoreh luka, syurga telah terlarang bagi kami. Namun, izinkan kami memberi bukti bahwa cinta kami adalah cinta sejati. Cinta yang tak akan bisa terukur waktu hitungan dasawarsa bahkan milenia, sebab cinta kami mengabadi dengan izinNya. Bahwa cinta kami adalah cinta seutuhnya sebab kami mencintai karenaNya dan membenci karenaNya. 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushshilat:30)

Jadilah sejatinya pemenang. Sebab pemenang sejati dalam sebuah perjuangan panjang dan melelahkan adalah mereka yang teguh nan sabar.

Tulisan ini dipersembahkan untuk Indri, Dwi, Asri Wulan, Hersyah dan adik-adikku di jalan Allah dalam perjuangan ketaatan. Uhibbukunna Fillah. Disini kita memulai perjuangan, disini kita bersama melaluinya, disana kita mengakhiri, disana kita bersama kelak. Di jannah, insyaa Allah. Dan untuk semua pejuang hidayah dimanapun berada. 

4 komentar:

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...