Hari itu, Aurora berkata “Aku akan melangkah, sejauh yang kakiku sanggup menjejak”, dan Cahaya hanya tertawa dan mengucapkan terima kasih yang begitu dalam.
Hingga, hari penyatuan visi antara Cahaya dan Sang Pangeran pun tiba, Aurora memandang dari kejauhan. Ia mencoba mendekat, mencari celah bertatapan dengan Cahaya tapi, ia tertahan. Sekuat tenaga ia melangkah, namun kaki dan pundaknya membawa ribuan ton beban hingga akhirnya sebuah bulir bening mengalir membasahi pipinya. Ya, ia tak sanggup. "Sampai disini saja", ungkapnya lirih. Matanya yang basah beradu dengan sosok cahaya dari kejauhan, ia tak mampu melangkah lebih jauh sesuai ikrarnya. Mengapa? Karena ia tak sanggup melihat cahaya berjalan menyusuri karpet merah yang akan dipandang oleh seluruh rakyat negeri cahaya. Ia terlalu istimewa, bahkan tak sembarang orang bisa menatapnya meski dari kejauhan. Ditemani si-pipi merah, mereka berdua terisak dalam. Tak semua hal berada dalam kontrol kita, yang bisa kita lakukan adalah berjuang sekuat tenaga pada hal-hal yang berada dalam kontrol kita. Mawar merah yang ia janjikan menjadi layu oleh air mata. Ia memilih menjauh dari istana cahaya yang bertabur bunga, membawa sisa-sisa derai dan beratnya langkah. Hiruk pikuk pesta semakin sayup dari kejauhan. “Cahaya, aku tidak meninggalkanmu. Tapi hari ini, izinkan aku untuk sejenak menghilang” gumamnya lirih sambil mengalihkan pandang dari istana cahaya yang semakin kecil dalam pandangan.
Hari ini saya belajar lagi tentang perjuangan
Serambi Madinah-Based True Story
Assalamu'alaykum Ustadzah :)
BalasHapusbagaimana kabarnya?
Wa'alaykumussalam warahmatullah
BalasHapusalhamdulillah bi khoir, ustadz. bgm kbr nih ustadz bersama istri? Sdh adakah calon mujahid/ah-nya?
alhamdulillah ustadzah, yang namanya rumah tangga baru, masih harus belajar banyak hal..
BalasHapusalhamdulillah istri sdh mengandung hampir 6 bulan, mohon do'anya smg lancar & kelak jadi jundi penerus perjuangan :)
aktivitas apa saja skrg?