Kamis, 07 Februari 2013

Sajak Tanpa Judul

Pada sebuah cita dan cinta yang tersingkap perlahan, kurengkuh perlahan dengan kedua belah tangan.
Jika hari ini adalah yang terakhir, maka izinkan kutarik garis yang takkan pernah lagi memisahkan kita untuk selamanya, yah selamanya.

Apa kabarmu wahai pejuang?
Detik berlalu tanpa kabar yang terbawa angin
Meski sekadar arus hangat yang menyebar
Ada ruang kosong dengan kealpaanmu
Tak ada yang ingin mengganti, karena itu adalah hak mu

Apa kabarmu wahai Adik?
Untuk sebuah hangat yang mengalir
Lewat seliter susu dan sekantung buah
Rasa bahwa ukhuwah masih ada
Menjadi kokoh olehmu
Apa kabar wahai Kawan?
Ketika kabar menghentak yang tak dapat kutepis
Tubuhmu terbaring lemah
Semoga masih ada esok yang terbit dengan kokohmu
Apa kabar wahai sahabat?
Untuk sebuah jarak yang memisah
Untuk sebuah cakrawala yang membatas
Untuk sebuah lautan yang membentang
Masih ada cinta tanpa limit
Apa kabar untukmu yang mengenalku?
Salam hangat dariku
Semoga masih ada ruang untukku
Berbagi denganmu tentang hujan, angin, lautan, cinta dan cita.
#Seberkas cahaya di penghujung hari dan pengawal waktu, Think Positive!Always On, Move On..

11 komentar:

  1. wah lumayan panjang ya sajaknya,, saya mah gak pernah bisa nulis sajak panjang gini

    BalasHapus
  2. Oh ya?? ini tentang rasa aja kok.. eh, nulis tiba2 jadi..

    BalasHapus
  3. Hmmm...
    lagi-lagi nggak menger... :-(

    BalasHapus
  4. suka bgt dgn puisinya!
    ^_^)b
    oya, maukah bertukar link dgn blogku sobat? aku udah pasang link blogmu di widget blogroll yg ada di bawah follower sidebar kiri bawah. biar kita bs saling mengunjungi

    BalasHapus
  5. oh iya boleh.. syukran kunjungannya Sob..

    BalasHapus
  6. tentang sebuah rasa..
    dalam & penuh makna..

    BalasHapus

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...