Rabu, 19 September 2012

Selamat Jalan, Adikku...



Wajah itu masih lekat dalam ingatan, tapi kini sosoknya mendahuluiku sebagai orang yang justru lebih dahulu menghirup oksigen. Yah, dialah kematian. Hari ini, Allah Subhanahu wata’ala menyentak kesadaran saya tentang arti pemutus kenikmatan selamanya. Kita semua akan mati, meninggalkan jejak, tinggal memilih jejak kebaikan atau jejak nista. Nurfadhillah Azhary, sosok sabar dan tenang. Dia lebih banyak tersenyum dibanding tertawa, lebih banyak kerja dibanding berbicara, lebih banyak diam dibanding mengeluh atas apa yang dia rasakan di hadapan manusia.

Saya tidak pernah menyangka kepergiannya yang begitu cepat. Di rumah duka, saya menemui mata yang sembab, nafas yang sesenggukan, dan jilbab-jilbab yang basah oleh air mata disekelilingnya. Ah, begitu banyak yang sayang denganmu, Dik. Husnul khatimah, itulah kesimpulan saya. Sore sebelum kepergiannya, Dhila begitu Ia biasa dipanggil masih mengisi halaqah tarbiyah pekanan di salah satu SMA. Keanehan sikapnya bagi mutarabbiyah beliau adalah pertanda kepergiannya, Dhila mengirimkan sms permintaan untuk bertemu dengan seluruh mutarabbiyahnya, seolah setelah itu tak akan bertemu lagi.. menyampaikan keinginannya agar pakaian muslimah yang ia miliki diserahkan kepada mereka. Ah, Dhila.. sebuah manik bening kini mengalir di pipi, mengingat setiap cerita yang mengalir tentangmu. Sebelum kembali ke sakan (Asrama), ia masih sempat berpamitan kepada sang Ibu di rumahnya sebanyak dua kali, hal yang diluar kebiasaannya. Dhila masih sempat musyawarah dengan akhawat sakan, bahkan masih sempat mengimami shalat Isya dengan suaranya yang merdu, hingga rasa sesak di dadanya tak tertahankan menyerang tiba-tiba, Dhila memilih tilawah hingga lewat tengah malam berharap rasa sakit akan berkurang dengan ayat-ayatNya. Dan saat sakit itu semakin tak tertahankan, akhirnya Dhila pingsan dan meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit.

Ramadhan 1433 H, sekitar dua bulan yang lalu saya bertemu dengannya di Sekretariat Forum Ukhuwah Muslimah Makassar. Siang selepas mengisi pesantren kilat di beberapa sekolah, para akhawat menjadikan sekret sebagai pelabuhan istirahat sejenak begitupun dengan Dhila, saya mendapati beliau sedang tilawah Al Qur’an, hanya sesekali menanggapi cerita akhawat menangani pesantren dengan senyum. Ah..Dhila, kini saya begitu cemburu dengan caramu menemuiNya, sungguh cemburu. Selamat jalan Adikku..Kami kehilangan seorang pejuang terbaik addin ini, sampai ketemu nanti, semoga kita dikumpulkan di JannahNya kelak dalam barisan para Syuhada. Aamiin yaa Mujiib.

12 komentar:

  1. Oh MasyaAllah...
    Speechless...

    BalasHapus
  2. Masih mengingat wajahnya dalam benakku May..
    Dhila masih sempat melempar senyum waktu kegiatan KPM, itu yang terakhir kali.. wajahnya begitu bercahaya.. ~ Ya Allah, lapangkan kuburnya..~

    BalasHapus
  3. Maha Suci Allah..
    Semoga kebaikan selalu bersamanya selama disana. :(

    BalasHapus
  4. Insya Allah, beliau banyak berkhidmat untuk Islam dan ummat, semoga mengalir terus jariyah padanya..

    BalasHapus
  5. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,
    semoga ALLAH melapangkan jalan-nya menuju surga-NYA

    BalasHapus
  6. Aamiin yaa Mujiib
    Syukran do'anya Pak..

    BalasHapus
  7. beberapa hari setelah kematian almarhum kak dhila, rasa penasaran dalam mengingat kembali wajahnya, kini terjawab ketika aku melihat foto almarhum dislh satu hp akhwat. sempat kaget dan tak menyangka krn terakhir kali aku melihat almarhum duduk seblahan dengan aku pd wkt silaturahim akbar di UNHAS. masyaAllah...terakhir, wajah itu terpancar dengan senyuman dan cahaya diwajahnya... sempat bertbicara sm aku. begini penyampaiannya " kak rezky murobbiyahta " jawab aku dengan balasan senyum juga "iya kak"... selamat jalan kakakku, Allah merindukanmu...

    BalasHapus
  8. اللهم اجعل قبرها روضة من رياض الجنان ولا تجعله حفرة من حفر النيران

    BalasHapus
  9. rindu padanya...yang telah mendahului. semoga rahmat Allah atasnya...

    BalasHapus
  10. 2 tahun semeja di SMA, slamat jalan my best friend.....

    BalasHapus

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...