Rabu, 14 Desember 2011

Malu

Bismillahirrahmanirrahim

Senin sore menjelang maghrib, Makassar diguyur hujan deras. Hari yang dingin dan basah itu adalah jadwal wisata hisbah bareng Ukhti Nurul. Halaqah saya cepat berakhir karena cepat mulainya, sedangkan Nurul karena datangnya telat ditambah pembicaraannya seru di halaqah yang ia tangani akhirnya molor hingga pukul 6. Sambil menunggu,, saya nikmati sore itu diteras sebuah mushollah yang sepi. Tak berapa lama, Nurul keluar dari ruangan kecil yang ada di sisi mushollah yang masih menjadi bagian bangunan sederhana itu. Setelah meminta maaf karena sudah membuat saya menunggu lama akhirnya kami pun meninggalkan lokasi penjebakan (Eh…bukan!Lokasi halaqah maksudnya) bersama salah seorang adik ngaji kami. Lumayan lah, bisa numpang mobil saudari sendiri, hemat ongkos..apalagi lokasi yang jauh menuntut kita naik angkot dan becak, tidak bisa berjalan kaki apalagi kalau waktunya mepet siang bolong pula bisa-bisa jadi roti bakar yang gesang..eh gosong..


Tapi, proses pengantarannya cuma sampai depan kantor DPRD dekat
fly overkarena rumah Ukhti Nurul berada di utara sedangkan rumah saya di selatan kota. Jadilah, naik angkot solusi tanpa argumentasi. Setelah menahan satu angkot yang lewat dengan lambaian tangan, saya naik dengan sedikit sigap khawatir supirnya melanggar peraturan lalu lintas berhenti sembarangan. Apalagi sudah mendekati waktu sholat maghrib. Saya memilih duduk disisi kanan belakang angkot tepat dekat dengan jendela yang terbuka. Setelah merapikan duduk, saya menyapu pandangan ke seluruh isi angkot. Penumpang tidak terlalu banyak. Hanya ada dua orang anak kecil yang duduk dihadapan saya beserta ibunya, dan 2 orang ibu-ibu disebelah saya yang sedang berbincang akrab. Sekian menit berlalu, tiba-tiba saya terkejut sewaktu dua gadis cilik dihadapan saya benyanyi riang. Entah itu lagu apa saya tidak mengerti, tapi hati saya miris. Gadis kecil ini sudah menjadi korban ghozwul fikr (perang pemikiran) di usia sangat belia. Terkadang mereka saling menegur jika salah dalam mengucapkan syair lagunya. Ingin rasa hati ini bertanya apakah mereka menghafalkan ayat Al Qur’an sefasih mereka menghafalkan lagu yang mereka didendangkan. Belum sempat saya bertanya, sang Ibu sudah menyuruh supir untuk menepi ke kiri tanda mereka ingin turun. Hhh…fikiran saya menerawang jauh, mencoba membayangkan apa yang dilakukan anak-anak tahfizhul Qur’an di saat yang sama. Sibuk dengan hafalan mereka, menjaga Al Qur’an tetap terpatri didalam dada-dada bersih mereka. Saya malu dengan usia yang kian bertambah namun hafalan masih minim..saya malu karena anak-anak disekitar kita lebih hafal dengan lagu dibandingkan dengan Al Qur’an..saya malu saat Al Qur’an dicampakkan, saat Al Qur’an hanya dipandang sebagai pelengkap atribut keagamaan semata, malu saat Al Qur’an ditinggalkan dan tidak diamalkan bahkan didakwahkan..Malu!

4 komentar:

  1. Ya Allah Ya Rabb...
    *muhasabah hari ini untuk esok yang lebih baik

    go! ayo maya! eh kok malah semangatin diri sendiri di blognya kak rezky? *garuk2 kepala

    terima kasih kakaku...
    aku menyayangi kakak.
    uhibbukifillah <3

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah..
    Subhanallah, kembali ada yang mencintai seorang Rezky...*Hehehe*Yei yeiy...

    BalasHapus
  3. hahahahahahaha
    I love you
    but God loves you more

    BalasHapus
  4. kakak... kakak... kakak...
    award dariku, special <3
    http://nurmayantizain.blogspot.com/2012/01/award-berantai-seven-shadowz.html

    BalasHapus

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...