“Hati-hati nulis!”
“Awas mengumbar kehidupan pribadi!”
“Jangan lebay deh dengan tulisan kamu!”
Sejumput pernyataan model begini sudah beberapa kali berseliweran. Warning buat kita-kita the bloggers mania yang hobby nulis dan posting tulisan di dunia maya. Buat yang sudah ahli berolah kata dengan kalimat sendiri, tidak lebay ketika nulis memang hal yang mudah. Atau untuk mereka yang sudah biasa buat artikel. But, buat kita-kita (maksud saya, khususnya saya gitu!!) menulis kehidupan pribadi dalam blog lebih mudah dibandingkan harus ngopas sana sini biar blog ramai tulisan juga bukan pilihan yang urgen. Toh orang bisa dapat itu dari situs utamanya?. Sampai disini alasan pertama bisa jadi argumentasi yang mapan. Atau saya tambah lagi satu biar genap argumentasinya, mengambil kehidupan pribadi lebih bisa termaknai dengan menarik benang merah agar di kemudian hari kita bisa menyimpulkan”yah ini dia pelajaran hidup”.
Memang, diakui aktivitas menulis adalah aktivitas yang tidak semua orang bisa menggelutinya. Menulis adalah sarana menyampaikan opini, persepsi, argumentasi dan seikat makna lain yang serupa. Sarana yang terkadang bisa lebih menyentuh dibandingkan dengan berbicara langsung. Meskipun harus pula diakui kalau apa yang kita tulis juga kudu bin wajib dipertanggungjawabkan. Kenapa?karena jari jemari menggantikan posisi mulut dalam berbicara. So pasti itu berarti hukum lisan pun berlaku padanya. Sebagaimana pula lisan yang harus menyampaikan yang baik-baik saja, maka tulisan pun harus menyampaikan yang baik-baik saja.
Saya sedikit tergelitik ketika membaca sebuah uneg-uneg seseorang yang mengkritisi kehadiran blog-blog pribadi akhwat
yang meramaikan dunia maya hari ini. Seolah tak ingin ketinggalan dengan laju perkembangan teknologi, maka blog juga sebagai sarana mudah menumpahkan bakat menulis dari yang penting, sangat penting bahkan tidak penting-penting amit mulai dilirik. Sebenarnya saya berhusnuzhon saja dengan sang Uneger (Penyampai uneg-uneg maksudnya) bahwa akhwat harus berfikir matang dalam menuliskan kehidupan pribadinya diblog, memang banyak blog yang rada-rada aneh. Tak ingin menggeneralkan tapi, ada pula yang memang bagus. Mungkin cerita yang sama dialami oleh banyak orang, tapi cara menyampaikannya-lah yang membedakan. Bisa jadi Punya banyak nilai, motivasi dan makna.
Sehingga, bagi saya menjaga niat ini yang penting. Yaitu menjaga niat bahwa menulis adalah sarana untuk memuliakan bukan untuk menghinakan. Caranya?sampaikan yang baik-baik saja. Jangan jadikan sebagai sarana provokasi, umbar-umbar aib, cerita cinta picisan or anything else yang kalau diukur pakai kacamata Islam so pasti tidak lulus fit and proper test. Memang sulit, bahkan ulama mengakui kalau menjaga niat adalah hal yang sulit ketika melakukan amalan. Tapi tak ada salahnya terus belajar. Toh belajar juga bisa bikin kita tau kalau itu salah!
Tambah satu poin penting lagi, bahwa mengokohkan niat dan mempertebal keinginan untuk lebih banyak lagi memberi manfaat melalui dunia penulisan adalah nilai yang kemudian akan memotivasi kita untuk lebih banyak berbuat dengan memberikan kontribusi bermakna bagi dunia jurnalistik di negeri ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...
Terima kasih atas kunjungannya...
BalasHapuskunjungan balik...salam blogger :)
Setuju kak, yang harus diperbaiki itu niatnya, lalu cara untuk mengaktualkan niat tersebut, bukan serta merta dengan men-judge kegiatan nulis *khususnya nge-blog* sebagai sesuatu yang pantas untuk dicekal. Bahkan, dengan blogwalking, saya jadi sadar, bahwa ternyata masih banyak akhwat lain yang lebih pantas disebut pujangga.., Kak Rezky salah satunya.. Cie.. *hehehe
BalasHapussetuju setuju setuju....ayo siapa lagi yangn mau acung jari??
BalasHapusgedubrraaak.....
hehe..soalnya ndak ada potongannya pujangga yah kalo lihat pribadinya???
setuju mbak.. :)
BalasHapuseh..ada yg setuju lagi, Ayo siapa lagi???
BalasHapusAcungin jari...:)
saya... saya...
BalasHapussaya setuju.