Senin, 15 Agustus 2011

Harga Sebuah Jempol

Fabi ayyi’alaa I rabbikumaa tukadzzibaan….

Sambil menulis postingan  ini, saya menatap jempol saya yang sedang berbalut plester luka. Beberapa waktu lalu jempol ini terluka di sebuah acara akad nikah saudari seperjuangan. Karena acaranya adalah gawe halaqah tarbiyah saya, maka ditengah tamu yang membludak saya memilih membantu dengan mencuci piring. Tapi, qaddarallah sebuah sendok menggores kulit tepat dibawah kuku hingga kulitnya terkelupas. Darah mengalir tak bisa terelakkan. Mungkin melukai pembuluh kapilernya. Saya sudah berusaha membalutnya dengan kain sambil menekannya untuk menghindari pendarahan lebih lanjut, tapi sia-sia. Akhirnya dengan meminta bantuan seorang adik membeli plester luka barulah darah yang mengalir bisa terbendung.


Hm…jempol saya harus pakai baju!he…dan disinilah harga jempol bagi saya sangat besar. Masuk waktu sholat saat saya harus berwudhu, saya harus menghindari jempol ini basah sebab nyeri yang mendera. Makan pun susah, sebab saya tidak bisa nyunnah lagi makannya. Mesti pakai sendok. Menekan tuts hape tidak bisa selincah biasanya, sebab permukaan jempol tertutup plester sehingga tidak bisa merasakan tekstur semua benda. Semakin besar harga sebuah jempol manakala saya harus menjahit sebuah jilbab. Untuk menjahitnya maka peran jempol sebagai peraba kain menjadi disfungsional, akibatnya saya harus berulangkali mengulang dan mengulang jahitan tersebut.

Hhhhh…Ilahi Rabbi jempol ini sungguh berharga. Proses pengguguran dosa berakhir dalam tiga hari, baju sang jempol kini terbuka. Kulit yang tadinya terkelupas mulai tergantikan dengan yang baru. Saya sudah mulai merasakan tekstur tut shape dan keyboard laptop saya. Benarlah jika setiap kenikmatan yang Allah berikan sangat besar manfaatnya, dan baru terasa saat kenikmatan itu dicabut sesaat. Meski hanya sebuah jempol…

3 komentar:

  1. "Maka, nikmatKu manakah yang kau dustakan?" MasyaAllah, sy jadi semakin ingin terus belajar.. :))
    2 thumbs up for ukhti.. d ^.^ b

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...