Rabu, 20 November 2013

Untukmu di Istana Cahaya

Bismillahirrahmanirrahim

Hari itu, Aurora berkata “Aku akan melangkah, sejauh yang kakiku sanggup menjejak”, dan Cahaya hanya tertawa dan mengucapkan terima kasih yang begitu dalam.

Jumat, 15 November 2013

Kembali dari Hiatus


Ughh.. saya sedang terkena sindrom. Sindrom kebuntuan inspirasi. Lihat saja, saya baru mendarat disini setelah sekian lama. Jari-jemari saya mendadak kaku, seperti lidah yang kelu untuk berkata. Hey, saya tidak benar-benar mengalaminya kok, buktinya saya masih bisa menuliskan ini kan?

Mengalami kebuntuan seperti ini sudah sering saya alami, adalah salah kalau saya harus mengkambinghitamkan rutinitas untuk melegitimasi ke-alpa-an saya menulis. Padahal saya baru saja mengikuti pelatihan jurnalistik. Oh Allah, ini kesalahan. Okey, saya harus keluar. Tapi, mulai dari mana? Somebody help me, please. Ah, itu terlalu mendramatisir. Keluar yah keluar saja. Ini, saya sudah keluar dari masalah dengan menulis lagi.

Senin, 27 Mei 2013

Hidup Itu Tentang Fluktuasi

Apa yang kita pandang tentang kehidupan adalah semua warna yang tersaji indah pada kita. Meski lebih seringnya ia berubah, kadang ada pelangi yang melengkung indah, langit membiru, semilir angin yang melembut. Di kali yang lain, ada kelabu tergores, guntur bernyanyi dan angin yang berubah membadai.

Senin, 06 Mei 2013

Suatu Yang Pasti

Bismillahirrahmanirrahim
Untuk suatu yang pasti, mengapa meragu?

Untuk suatu yang tak terbantahkan, mengapa tak bersiap?


Adakah hal yang absolut didunia ini?? Ada. Itulah kematian. Kematian yang akan senantiasa mengintai setiap jiwa, yang harus selalu diwaspadai kedatangannya. Sebagaimana telah diberitakan dalam kalamullah yang tak terbantahkan,

Selasa, 23 April 2013

Membangun Peradaban


Ketika diberi masa untuk mencetak generasi maka, disitulah kita membangun peradaban.

“Hhh… sudahlah, kau tak membantu sama sekali. Aku menghubungimu untuk ditenangkan menghadapi ini. Tapi, sudahlah”. Desahnya lirih.

“aku bicara lebih realistis. Memang kamu butuh itu kan? Tapi ini sudah diluar kebiasaan”. Sergahku sengit.

“Sebentar kita lanjut. Aku sudah mau pulang dan tidak mungkin berbicara diatas motor. Okey?” lanjutku.

“Hmm… aku tidak janji bisa nelpon lagi. Assalamu alaaikum”

“kamu harus menelepon lagi, wa’alaykumussalam”.

Tut, tut, tut…

Telepon genggam ditanganku kumasukkan ke dalam saku tas. Senja kemerahan mengantarku pulang ke rumah. Itu percakapan dengan sahabatku via telepon sore itu. Sepanjang perjalanan aku berfikir, betapa kasihannya sahabatku menjadi guru yang tak digaji berbulan-bulan. Sekolah baru yang ditempatinya mengabdi belum mampu membiayai gaji guru-gurunya, karena masih harus berusaha memenuhi kelengkapan berkas agar layak dinyatakan sebagai sebuah sekolah berstatus negeri.

Menulis, Tradisi Orang Berilmu.

Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...