Fabi ayyi’alaa I rabbikumaa tukadzzibaan….
Sambil menulis postingan ini, saya menatap jempol saya yang sedang berbalut plester luka. Beberapa waktu lalu jempol ini terluka di sebuah acara akad nikah saudari seperjuangan. Karena acaranya adalah gawe halaqah tarbiyah saya, maka ditengah tamu yang membludak saya memilih membantu dengan mencuci piring. Tapi, qaddarallah sebuah sendok menggores kulit tepat dibawah kuku hingga kulitnya terkelupas. Darah mengalir tak bisa terelakkan. Mungkin melukai pembuluh kapilernya. Saya sudah berusaha membalutnya dengan kain sambil menekannya untuk menghindari pendarahan lebih lanjut, tapi sia-sia. Akhirnya dengan meminta bantuan seorang adik membeli plester luka barulah darah yang mengalir bisa terbendung.
Senin, 15 Agustus 2011
Mereka Bagian Inspirasiku
Terkadang kita dibuat terkagum-kagum oleh ratusan kisah heroik picisan ala anak muda. Atau sederet kisah berlabel “Islam” yang menggelora. Hanya saja, untuk yang satu ini saya begitu tersentak dan terinspirasi. Saya hanya tak bisa membayangkan sebuah zaman yang berisi orang-orang super. Bagi kita super bisa berarti superman, batman, spiderman, de el el..tapi inilah mereka para sahabat Rasululllah Shallallahu’Alayhi Wasallam.
Sirah telah menorehkan kehebatan mereka. Ratusan pribadi telah melalui proses tarbiyah oleh madrasah nubuwwah yang kental dengan aroma wahyu dan kepekatan didikan sang Uswah. Ratusan pribadi itu tak menjadi sosok yang lain dalam proses pembentukannya. Tak menjadi sosok yang asing bagi keluarganya atau kerabatnya kecuali satu dasar prinsip taqwa yang kian menghujam. Mereka tumbuh dalam sibghah yang luar biasa, menembus batas kisah manusia super abad ini.
Sirah telah menorehkan kehebatan mereka. Ratusan pribadi telah melalui proses tarbiyah oleh madrasah nubuwwah yang kental dengan aroma wahyu dan kepekatan didikan sang Uswah. Ratusan pribadi itu tak menjadi sosok yang lain dalam proses pembentukannya. Tak menjadi sosok yang asing bagi keluarganya atau kerabatnya kecuali satu dasar prinsip taqwa yang kian menghujam. Mereka tumbuh dalam sibghah yang luar biasa, menembus batas kisah manusia super abad ini.
Minggu, 03 Juli 2011
Ingin Terus Berkarya...
Meski sederhana namun, postingan ini istimewa untuk mereka yang telah meluangkan waktunya sekedar menengok apa yang saya goreskan. Aksara yang terpahat di weblog ini tidak banyak, masih minim makna, minus manfaat, hanya mencoba mengalirkan letupan-letupan huruf yang siap berjejer dan membentuk kata.
Kepada mereka yang mengambil manfaat, semoga terus mengalir jariyah. Kepada yang menemukan inspirasi, teruslah berkarya tanpa batas. Kepada yang menemukan makna, jangan berhenti memahaminya!
Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungannya. Kunjungan anda semua terlihat melalui traffic, komentar dan hasil pencarian mesin searching. Kunjungan itu membuat saya terus ingin menulis, memahat huruf demi huruf, menyusunnya meski terkadang terseok dengan aktivitas yang menggerus masa. Tulisan telah membangkitkan ide-ide yang lama terpendam usia dan ketidakdisiplinan. Terima kasih dan jangan berhenti memberi nasehat yang membangun!
Rabu, 08 Juni 2011
Jangan Menyerah!
Sepertinya saya harus berterima kasih pada sebuah provider telepon celluler. Sebuah info sel melekat paten pada layar desktop hape saya. Tulisannya pendek, hanya dua kata HIDUPKAN SUKSESMU! Tapi kata-kata itu ajaib bagi saya. Sukses memang harus dihidupkan, disaat-saat saya merasa “sedikit” terpuruk dengan kondisi yang jauh dari target dan idealitas. Saya tak ingin muluk-muluk dengan target dan idealitas itu. Meskipun saya akui, semestinya saya harus punya plan A, B dan C mengantisipasi kemungkinan jika memang jauh dari target. Tapi, untuk urusan yang ini tak ada plan B dan C, rencana awal harus segera direalisasikan. Jawabanya cuma satu! MAJU! Tak ada kata mengganti dengan yang lain atau mundur teratur.
Kamis, 02 Juni 2011
Dia Yang Telah Pergi
(Kullu nafsin dzaaiqatul mauut...)
Selamat Jalan...
Maafkanku yang tak sanggup temanimu dalam detik-detik perpisahan itu
Maafkanku tak melantunkan ayat-ayat cinta diruang dengarmu
Maafkanku tak mampu genggam jemarimu saat Malaikatul Maut menjemputmu
Bahagiaku saat mendengar segores senyum sempat kau lukiskan
Ingin mendampingimu dalam dekapan waktu
Namun jauhnya jarak memisahkan kita
Kini tanah telah menyatukanmu dalam diamnya
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis, Tradisi Orang Berilmu.
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Kebiasaan para ulama adalah menulis bukan berceramah , sebuah kalimat singkat yang saya baca dari sebuah artikel salah satu ustadz favor...
-
Saya terlalu faqir untuk menjadi bagian dari keluarga besar pelayan Al Quran, pertama hafalan saya masih sangat-sangat standar, kedua saya...
-
Anak kecil. Dulu, saya berdiri di hadapannya sebagai si tentor biologi, tapi ternyata kelak kami akan berdampingan saling tertawa, bukan...
-
Berdoalah, sebab yang kau tuju tak bosan mendengar pintamu. Berdoalah, sebab doa adalah bukti ketidakberdayaanmu. ادْعُواْ رَبَّكُمْ ت...